Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis
panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia dan hidayah-Nya
sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan lancar
dan tepat pada waktunya. Dalam Makalah ini,
penulis menjelaskan tentang “ Analisis harga Keripik Tape”.
Dalam menulis dan menyusun makalah ini,
penulis banyak mendapatkan bimbingan, bantuan serta dukungan dari berbagai
pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
pihak-pihak yang terlibat dalam penyusan makalah ini baik secara lansung maupun
tidak secara lansung. Penulis menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena
keterbatasan pengetahuan, wawasan dan kemampuan yang dimilki oleh penulis. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun
guna kesempurnaan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bisa bermanfaat
bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.
Jambi, April 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia,
singkong merupakan produksi hasil pertanian pangan ke dua terbesar setelah
padi, sehingga singkong mempunyai potensi sebagai bahan baku yang penting bagi
berbagai produk pangan dan industri. Sebagai makanan manusia, singkong
mempunyai beberapa kekurangan diantaranya kadar protein dan vitamin yang rendah
serta nilai gizi yang tidak seimbang. Disamping itu beberapa jenis singkong
mengandung racun HCN yang terasa pahit. Dari dasar itulah secara lokal singkong
dibagi menjadi singkong pahit dan singkong manis.
Teknologi singkong
yang digunakan manusia sebagian besar masih merupakan warisan atau sedikit
mengalami modifikasi dari cara-cara yang telah dipraktekkan manusia di zaman
purba, termasuk cara-cara mengurangi dan menghindari racun yang ada di dalam
singkong. Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama. Untuk pemasaran yang
memerlukan waktu lama, ubi kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain yang
lebih awet, seperti gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai, peuyeum, keripik
singkong, dan lain-lain.
Pada hakekatnya semua
makanan yang mengandung karbohidrat diolah adalah ketan dan ubi kayu (berdaging
putih atau kuning). Tapai dari ubi kayu (berdaging putih atau kuning). Tapai
dari ubi kayu yang berdaging kuning lebih enak daripada yang berwarna putih,
karena ubi kayu kuning dagingnya lebih halus tanpa ada serat-serat yang kasar.
Ubi kayu yang bagus untuk dibuat tapai adalah yang umurnya 6 bulan – 1 tahun,
baru saja dicabut dari kebun dan langsung dikukus.
Kripik merupakan
salah satu makanan ringan yang paling disukai masyarakat Indonesia utamanya
kalangan anak muda. Hal ini dikarenakan, kripik dapat dibeli dengan harga yang
cukup murah, beraneka rasa, renyah dan praktis, dapat dibawa kemana-mana
sebagai cemilan sehari-hari.
Dalam proses
pengolahannya, tape singkong yang memiliki kadar air yang tinggi dan mudah
menglami kerusakan dapat diolah menjadi kerupuk sehingga memiliki daya simpan
yang cukup lama. Selain itu, dengan pengolahan ini juga dapat meningkatkan
nilai jualnya
Oleh karena itu pada penulisan makalah ini ditujukan
dalam pembuatan
keripik tape dari singkong dan menganalisis hasil pendapatan yang didapatkan
dalam penjualan keripik tape singkong.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana cara mengolah ubi kayu
menjadi produk baru?
2.
Apa saja cara membuat produk dari ubi
kayu?
3.
Bagaimana menganalisa Nilai Tambah
Ubikayu Menjadi Keripik tape?
4.
Apa potensi yang dimiliki keripik
tape?
1.3 Tujuan
2.
Mengetahui proses pengolahan ubi kayu
menjadi keripik tape.
3.
Mengetahui analisis pendapatan dari
hasil keripik tape.
4.
Mengetahui analisis data Nilai Tambah
Ubikayu Menjadi Keripik tape.
5.
Mengetahui potensi yang dimiliki
keripik tape.
BAB II
METODELOGI PERCOBAAN
2.1
Alat dan Bahan
Alat-alat yang
digunakan Adapun alat alat yang di perlukan dalam
pembuatan keripik kulit singkong yaitu : Wajan, Cutik Panci, Pisau, Kompor. Bahan-Bahannya
yaitu : Singkong, Minyak goreng, Garam, Bawang putih, Penyedap rasa, Ragi,Air
secukupnya.
2.2 Prosedur Kerja
a. membuat tape
singkong

b. membuat keripik
tape singkong

c. penjualan dan
penganalisaan hasil pendapatan
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Singkong
lebih dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu. Secara keseluruhan tumbuhan
ini telah dimanfaatkan, baik daun maupun akarnya. Bagian akar disebut juga
umbi, dengan dagingnya berwarna putih atau kekuning-kuningan bila dalam keadaan
segar. Umbi singkong tidak tahan disimpan lama tanpa perlakuan khusus setelah
dipanen kurang lebih selama dua hari. Pada saat itu, singkong telah mengandung
racun yang ditandai oleh perubahan warna daging buahnya menjadi biru gelap.
Racun itu adalah asam sianida.
Ada beberapa jenis singkong yang
dikembangkan di Indonesia. Jenis atau varietas singkong digolongkan berdasarkan
kadar asam sianida yang dikandungnya. Ada jenis singkong manis dan singkong
pahit. Singkong manis dapat digunakan langsung karena mempunyai kadar asam
sianida relatif rendah. Yakni kadarnya di bawah 40 mg asam sianida per kilogram
(kg) umbi yang masih segar. Kadar sianida di bawah 40 mg dapat hilang ketika
singkong dibilas air atau dimasak sampai matang, sehingga tetap menjadikan umbi
singkong tidak dapat dikonsumsi secara langsung dalam keadaan mentah. Untuk
kelompok singkong manis, diantaranya gading, adira I, mangi, betawi, metega,
randu ranting, dan kaliki. Jenis singkong pahit mempunyai kadar asam sianida di
atas 50 mg/kg umbi segar. Umumnya digunakan untuk keperluan
industri, seperti industri tapioka. Golongan singkong pahit adalah basiorao, adira
IV, muara, tapikuru, bogor, adira II, dan SPP. Berdasarkan penelitian beberapa
ahli, dikatakan bahwa semakin tinggi kadar asam sianida dalam umbi, maka
rasanya akan semakin pahit. Beberapa cara telah diterapkan untuk mengurangi
senyawa racun itu, seperti perebusan, pemanasan, pengukusan, pencucian, dan
pengeringan. Cara pencucian tergolong efektif untuk mengurangi racun
sianida karena asam sianida mudah terlepas ke dalam air rendaman.
Sementara cara pengeringan dapat menguapkan senyawa beracun tersebut. (
Husniati, 2010).
Pada
hakekatnya semua makanan yang mengandung karbohidrat diolah adalah ketan dan
ubi kayu (berdaging putih atau kuning). Tapai dari ubi kayu (berdaging putih
atau kuning). Tapai dari ubi kayu yang berdaging kuning lebih enak daripada
yang berwarna putih, karena ubi kayu kuning dagingnya lebih halus tanpa ada serat-serat
yang kasar. Ubi kayu yang bagus untuk dibuat tapai adalah yang umurnya 6 bulan
– 1 tahun, baru saja dicabut dari kebun dan langsung dikukus. Selama ini orang
berpendapat bahwa tapai dan peuyeum adalah sama, tetapi sebenarnya terdapat
perbedaan yang sangat mendasar. Tapai dari Jawa Tengah tidak tahan disimpan
lama karena cepat sekali berair, sedangkan peuyeum dari Jawa Barat lebih tahan
disimpan karena tidak berair. Bahan baku pembuatan tape adalah ubi kayu, untuk
pembuatan tape ubi kayu/tape singkong; mula-mula ubi kayu dikupas, dicuci
dengan air bersih, kemudian dipotongpotong kira-kira 10 cm atau menurut
kesukaan, dan dikukus hingga matang (± 30 menit). Setelah ubi kayu, dimasukkan
dalam keranjang atau wadah lainnya, dan ditaburi bubuk ragi tape sebanyak ± 5 –
10 gram untuk setiap kg bahan. Wadah kemudian ditutup, dibiarkan selama 3 hari,
dan akhirnya tape siap dimakan atau dipasarkan. Pada proses pembuatan tapai,
karbohidrat mengalami proses peragian oleh mikroba atau jasad renik tertentu,
sehingga sifat-sifat bahan berubah menjadi lebih enak dan sekaligus mudah
dicerna.
Pada
hasil yang kami gunakan disini kami memanfaatkan hasil dari ubi kayu dimana
disini dilakukan nya proses pembuatan dari sebuah tape yang lalu digunakan
untuk membaut keripik dari tape yang memiliki suatu nilai tambah yang cukup
baik hasilnya pada proses pembuatan keripik ini melalui beberapa tahap.
Adapula
bahan dan kegunaan beserta fungsinya untuk pembuatan keripik tape disini :
1.
Gula
Gula pasir atau gula putih telah menjadi bahan
makanan pokok dalam berbagai makanan seperti kue, permen, biskuit atau beberapa
minuman. Gula putih ini berasal dari tebu dan juga tanaman bit atau umbi-umbian
(Adipedia, 2011). Gula digunakan pada berbagai produk makanan. Selain pemberi
rasa manis gula dalam konsentrasi tinggi berperan sebagai pengawet. Konsentrasi
gula yang tinggi (70%) sudah dapat menghambat pertumbuhan mikroba perusak
makanan (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Universitas Sumatera Utara 24 Gula
merupakan salah satu bahan pemanis yang sangat penting karena hampir setiap
produk mempergunakan gula. Fungsi gula sebagai bahan penambah rasa, sebagai
bahan perubah warna dan sebagai bahan untuk memperbaiki susunan dalam jaringan
(Subagjo, 2007). Penambahan gula bukan saja untuk menghasilkan rasa manis
meskipun sifat ini sangatlah penting. Gula bersifat untuk menyempurnakan rasa
asam, cita rasa dan juga kekentalan. Daya larut yang tinggi dari gula memiliki
kemampuan mengurangi kelembaban relatif, dan daya mengikat air adalah
sifat-sifat yang menyebabkan gula dipakai dalam pengawetan pangan (Buckle, et
al, 1987).
2.
Garam
Garam khususnya garam
dapur (NaCl) akan dapat menghasilkan berbagai pengaruh terhadap bahan pangan,
terutama dapat menghambat mikrobia-mikrobia pembusuk yang mengkontaminasi bahan
juga dapat mempengaruhi Aw dari bahan makanan sehingga dapat menghambat
pertumbuhan mikrobia yang tidak dikehendaki (Winarno dan Laksmi, 1982). Fungsi
penambahan garam adalah untuk memperbaiki rasa yaitu untuk menetralkan rasa
pahit dan rasa asam, membangkitkan rasa selera dan mempertajam rasa manis,
selain itu garam mempunyai tekanan osmotik yang tinggi, higroskopik atau
terurai menjadi Na+ dan Clyang meracuni sel mikrobia dan mengurangi kelarutan
O2 (Purba dan Rusmarilin, 1985).
3.
Bahan pengembang (baking powder)
Pengembang
merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengembangkan adonan. Prinsipnya,
pengembang merupakan senyawa yang Universitas Sumatera Utara 25 dapat melepas
gas di dalam adonan pada suhu dan kadar air yang sesuai. Pada proses penggorengan,
gas dari bahan pengembang dilepaskan. Gas yang dilepas bersama-sama udara dan
uap air yang mengembang karena panas, terperangkap di dalam struktur adonan
menghasilkan produk akhir yang bersifat berongga. Contoh bahan pengembang
adalah soda kue dan baking powder (Estiasih dan Ahmadi, 1998).

Bahan pengembang adonan yang sekarang dipakai
menggunakan bahanbahan kimia yang dapat menghasilkan gas CO2. Gas ini diperoleh
dari karbonat atau bikarbonat (NaHCO3). Kadang-kadang garam ammonium karbonat
atau ammonium bikarbonat juga digunakan, tetapi garam-garam ini terurai pada
suhu tinggi (Winarno, 1992). Baking powder adalah bahan pengembang kue yang
bertekstur lembut seperti tepung. Baking powder memiliki dua jenis, yaitu
single-acting baking powder dan double-acting baking powder. Single-acting
baking powder akan bersifat aktif jika dicampur dengan air dan bereaksi hanya
dalam satu tahap saja. Sedangkan double-acting baking powder bereaksi dalam dua
tahap, sehingga sebelum memanggang adonan kue, adonan dapat dibiarkan beberapa
lama agar terjadi pengembangan sempurna (Sukamasak, 2011).
Apabila
terlalu banyak baking powder maka kue akan mekar sekali, dan bau yang
dihasilkan sedikit menyengat, dan rasanya (baking powder) kebanyakan akan
terasa sedikit pahit (Kuebasah, 2011). Baking powder merupakan campuran dari
bahan pengembang dengan pengembang yang terdiri dari natrim bikarbonat,
pengembang asam, serta bahan Universitas Sumatera Utara 26 pengisi pati dengan
standar formula paling sedikit menghasilkan 12% CO2 (b/b) dan NaHCO3 20- 30%
(b/b) (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Tabel 4. Komposisi kimia baking powder (%)
Komposisi Jumlah (%) Natrium karbonat 30 Natrium bikarbonat 20 Amonium karbonat
7 Amonium bikarbonat 5 Kalium bikarbonat 13 Pengembang asam 8 Bahan pengisi pati
12 Bahan lainnya 5 Sumber : Estiasih dan Ahmadi, 1998 Baking powder merupakan
bahan pengembang (leavening agent), yang terdiri dari campuran sodium
bikarbonat, sodium alumunium fosfat, dan monokalsium fosfat. Sifat zat ini jika
bertemu dengan cairan atau air dan terkena panas akan membentuk karbondioksida.
Karbondioksida inilah yang membuat adonan jadi mengembang
(ResepmasakanIndonesia, 2011).
4.
Tape
Tape atau uli (bahasa betawi) adalah salah
satu makanan tradisional Indonesia yang dihasilkan dari proses peragian
(fermentasi) bahan pangan berkarbohidrat, seperti singkong dan ketan. Tape
biasa dibuat dari singkong (ubi kayu) dan hasilnya dinamakan tape singkong.
Bila dibuat dari ketan hitam atau ketan putih, hasilnya dinamakan tape pulut
atau “tape ketan”. Tape hasil fermentasi umumnya berbentuk semi cair, berasa
manis keasaman, mengandung alkohol, dan memiliki tekstur lengket. Umumnya tape
diproduksi oleh industri kecil dan menengah sebagai kudapan atau hidangan
pencuci mulut (Wikipedia, 2011). Tape sebagai produk makanan cepat rusak karena
adanya fermentasi lanjut setelah kondisi optimum fermentasi tercapai, sehingga
harus segera dikonsumsi. Namun demikian jika disimpan dalam tempat yang dingin
maka akan dapat bertahan 2 minggu. Hasil dari fermentasi lanjut adalah produk
yang asam beralkohol, yang tidak enak lagi untuk dikonsumsi (Hidayat, dkk.,
2007).

Rasa manis dari tape
dipengaruhi oleh kadar gula dari tapenya sendiri. Dalam proses fermentasi itu
pati akan diubah menjadi gula oleh kapang dan gula diubah menjadi alkohol. Rasa
asam pada tape dapat timbul karena perlakuan-perlakuan yang kurang teliti,
seperti penambahan ragi yang berlebihan dan penutupnya yang kurang rapat pada
saat fermentasi. Selain itu rasa asam pada tape dapat terjadi bila fermentasi
berlangsung lebih lanjut (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan
IPB, 1990). Fermentasi gula oleh ragi, misalnya Saccharomyces cereviseae dapat
menghasilkan etil alkohol dan CO2 melalui reaksi sebagai berikut : Ragi C6H12O6
2C2H5OH + 2CO2 (enzim) Reaksi ini merupakan dasar dari pembuatan tape (Winarno,
et al., 1980) Pada prinsipnya pembuatan tape adalah perombakan karbohidrat
kompleks menjadi senyawa sederhana berupa dekstrin dan glukosa dengan bantuan
enzim yang dihasilkan oleh kapang. Senyawa yang lebih sederhana kemudian diubah
menjadi alkohol oleh khamir (Harris dan Karmas, 1989). Universitas Sumatera
Utara 20 Makanan-makanan yang mengalami fermentasi biasanya mempunyai nilai
gizi yang lebih tinggi daripada bahan asalnya. Hal ini tidak hanya disebabkan
karena mikroba bersifat katabolik atau memecah komponen-komponen yang kompleks
menjadi yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna (Desrosier, 1988).
5 Pengeringan
Pengeringan merupakan metode pengawetan dengan
cara pengurangan kadar air dari bahan pangan sehingga daya simpan menjadi lebih
panjang. Perpanjangan daya simpan terjadi karena aktivitas mikroorganisme dan
enzim menurun sebagai akibat dari air yang dibutuhkan untuk aktivitasnya tidak
cukup (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Pengeringan adalah suatu proses pemindahan
panas dan uap air yang memerlukan uap panas untuk menguapkan kandungan air
dalam bahan yang dikeringkan. Kemampuan bahan untuk melepaskan air dari
permukaannya akan semakin besar dengan meningkatnya suhu udara pengering yang
digunakan (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Keuntungan pengeringan adalah bahan
menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi kecil sehingga mempermudah dan
menghemat ruang pengepakan Universitas Sumatera Utara 23 dan pengangkutan,
dengan demikian diharapkan biaya produksi menjadi lebih murah (Winarno, 1993).
6.
Penggorengan
Dalam penggorengan
minyak goreng berfungsi sebagai medium penghantar panas, penambah rasa gurih,
dan penambah nilai gizi dan kalori bahan pangan (Ketaren, 2005). Penggorengan
merupakan proses dehidrasi dari produk pangan, baik dari bagian luar maupun
keseluruhan produk. Proses penggorengan menggunakan minyak atau lemak sebagai
media pindah panas (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Kerupuk mentah yang dikonsumsi
harus digoreng di dalam minyak goreng panas (suhu 170°C) sambil dibalik-balik
selama 1 menit. Kerupuk yang akan digoreng harus cukup kering. Sebaiknya
kerupuk mentah dijemur terlebih dahulu sebelum digoreng (Warintek, 2011).
Dan
dari hasil penjualan didapatkan data macam-macam analisis penjualan sebagai
berikut :
Tabel 1.
Analisis bahan baku untuk 1x proses produksi

Pada analisis sesuai
dengan data diatas terbagi atas 2 kebutuhan yaitu bahan baku yang berupa ubi
kayu,minyak goreng , ragi dan garam dan kebutuhan yang selanjutnya yaitu bahan
baku penolong berupa gas ,plastik 1kg, dan karet ikat disini hasil dari
analisis data pada bahan baku total nya sebesar Rp.67.000 dan sedangkan oada
bahan baku penolong Rp.83.000 dengan total dari analisis bahan baku 1x proses
produksi sebesar Rp.150.000.
Tabel
2.Biaya
Produksi Pendapatan dan Keuntungan Agroindustri Keripik tape
Pada tabel 2 diatas
akan membahasa biaya produksi pendapatan dan keuntungan agroindustri keripik
tape, dimana untuk TR sendiri ada rumusnya yang mana adalah
¨ TR
= Q x P
Dimana :
TR = Penerimaan total (total
revenue)
Q = Jumlah produk yang dihasilkan (quantity)
P = Harga (price)
Dan untu menyangkut tentang tentang keuntungan (pd) dengan rumus
berserta keterangan : Pd = TR – TC
Keterangan :
Pd = pendapatan yang
diterima oleh pengusaha
TR = total penerimaan
TC = total biaya
Dimana pada hasil analisis diatas berdasarkan rumus dan didapatkan
hasilnya adalah keuntungan dari hasil penjualan dengan 1 kali produksi adalah
Rp.30.000.
Tabel
3.
Analisis pendapatan 

Pada data tabel 3 diatas dari hasil data dari data
tabel 2 dan 1 dapat dimasukan hasil analisis data sesuai dengan tabel diatas
sdimana harga jual nya Rp.10.000,Jumlah produksi 18buah, dan total penerimaan
adalah sebesar Rp.180.000 dan jumlah total pendapatan disini adalah
Rp.180.000(pendapatan kotor).
Tabel
4.
Biaya Tetap - Rincian Penggunaan Peralatan 

Pada hasil data dari
tabel 4 diatas yakni biaya tetap-rincian penggunaan peraltan , dari
pengelompokan jenis dan variabel diatas total dari rincian penggunaan alat
disini sebesar Rp.488.000 dan jikalau nilai penyusutan sebesar Rp.63.000 maka
akan ada feedback uang kembali atas uang sisa yang diperoleh sebesar
Rp.330.000.
Tabel
5.
Analisis Titik Impas / Break
Even Point 

Pada hasil tabel dari
tabel 5 diatas membahas analisis titik impas dimana disini Analisis Titik Impas / Break Even Point memberikan informasi tentang hubungan
antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada
level penjualan tertentu.
Menurut
Riyanto (1997) dalam Shinta (2005), BEP dapat dihitung dengan dua cara yaitu :
1.
Atas dasar penjualan dalam unit
2.
Atas dasar penjualan dalam rupiah
Keterangan :
P = Harga jual per unit (Rp)
Q = Jumlah produk yang dihasilkan
FC = Biaya Tetap pada saat produksi (Rp)
VC = Biaya Variabel pada saat produksi (Rp)
TR = Total Penerimaan (Rp)
Dimana dari hasil
perhitungan akan tentang bep rupiah disini yaitu didapatka hasil sebesar
2.922.155,68856 dan dan sedangkan untuk BEP unit didapatkan nilai sebesar
53,2363.
Tabel
6.
Analisis Nilai Tambah Ubikayu Menjadi Keripik tape 

Pada hasil analisis
nilai tambah ubi kayu menjadi keripik tape disini sesuai dengan tebel pada
tabel 6 dengan perhitungan dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Analisis nilai tambah
dapat dijadikan sebagai parameter untuk pengembangan suatu agroindustri.
Menurut Sudiono (2001) digunakan analisis nilai tambah, secara matematis nilai
tambah dihitung dengan rumus :
Analisis Nilai Tambah
a. Nilai tambah Broto (NTb)
NTb = Na – Ba
= Na – ( Bb + BP)
Ba = 67.000
+ 83.000
= 150.000
NTb = 180.000– 150.000
= 30.000
b. Nilai Tambah Netto ( NTn)
NTn = NTb – NP
= 30.000 – 0
= 30.000
c. Nilai Tambah Per Bahan Baku
NTbb = NTb : Σ bb.
= 30.000: 18
= 1500
Dengan berdasarkan
rumus dan hasil perhitunga maka didapatkan nilai tambah per bahan baku sebesar
1500.mlmm
Tabel
7 Analisis
Produktivitas

Dari hasil analisis
produktivitas disini dilakukan percobaan dan analisis berdasarkan hasil
perhitungan dimana nilai produktivitas (a) yaitu 18 kg dan tenaga kerja (b)
5orang dan untuk menentukan produktivitas tenaga kerja dengan cara membangi
nilai yaitu (a/b) mendapatkan nilai produktivitas tenaga kerja 3,6kg/orang.
BAB
IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1.
Dalam proses pembuatan keripik tape
ini melalui dua proses yang pertama pembuatan tape terlebih dahulu kemudian
yaitu pembuatan keripik tape yang disini melalui 2 mekanisme proses dalam
pembuatan keripik tape.
2.
Hasil analisis pada data analisis
diatas bahwasannya didapatkan untung sebesar 30x dalam 1 kali produksi.
3.
Dalam hasil analisis data diatas
keripiki tape memiliki potensi untuk dijual dengan hasil sebagai bukti
keuntungan dari penjualan keripik tape ini.
4.
Untuk nilai hasil analisis nilai
tambah per bahan baku pada hasil analisis sebesar Rp.1500
4.2 Saran
Untuk
menjual keripik tape singkong menggunakan peembungkus dan pengolahan lebih baik
dan dalam segi sisi penjualan diharapakan dalam kedepan nya proses penjualan keripik
singkong ini lebih maju dan mendapatkan keuntungan setelah titik sebanding dari
balik modal.
DAFTAR
PUSTAKA
Buckle,
K. A., R. A. Edwards, G. H. Fleet, dan M. Wooton, 1987. Ilmu Pangan. Penerjemah
H. Purnomo dan Adiono. UI-Press, Jakarta.
Desrosier,
N.W., 1988. Teknologi Pengawetan Bahan Pangan. Penerjemah M. Muljohardjo. UI
Press, Jakarta
Hidayat,
N., M.C. Padaga, dan Suhartini, S, 2007. Mikrobiologi Industri. Andi,
Yogyakarta.
Kuebasah,
2011. Perbedaan Baking Powder dengan Soda Kue. http://www.kuebasah.com (2 Juli
2011).
Estiasih,
T. dan Ahmadi, 1998. Teknologi Pengolahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta.
Husniati.2010. Memilih
Singkong Aman Dimakan, (Online), http://www.radarlampung.co.id/read/opini/6565-memilih-singkong-aman-dimakan-)
diakses 10 Januari 2013.
Ketaren,
S., 2005. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI-Press. Jakarta
Purba,
A dan H. Rusmarilin, 2006. Penuntun Praktikum Teknologi Hewani. USU Press,
Medan.
Pusat
Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan, 1990. Seri Teknologi Pangan II.
IPB-Press, Bogor.
Resepmasakanindonesia,
2011. Mengenal Aneka bahan-bahan kue lain nya termasuk BahanKue.http://resepmasakanindonesia.info
(2 Juli 2011).
Subagjo,
A., 2007. Manajemen Pengolahan Roti dan Kue. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Sukamasak,
2011. Baking Powder. http://sukamasak.com (2 Juli 2011).
Warintek,
2011. Kerupuk. http://www.warintek.ristek.go.id (2 Juli 2011).
Wikipedia,
2011. Kerupuk. http://id.wikipedia.org (2 Juli 2011)
Winarno,
F. G. Daicialn B. S. Laksmi, 1982. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara
Pencegahannya. Ghalia Indonesia, Jakarta.
0 komentar:
Posting Komentar