Kamis, 07 September 2017

Keripik Tape

di September 07, 2017

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tepat pada waktunya. Dalam Makalah ini, penulis menjelaskan tentang “ Analisis harga Keripik Tape”.
Dalam menulis dan menyusun makalah ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penyusan makalah ini baik secara lansung maupun tidak secara lansung. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan pengetahuan, wawasan dan kemampuan yang dimilki oleh penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

                                                                                    Jambi, April 2017

                                    Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Di Indonesia, singkong merupakan produksi hasil pertanian pangan ke dua terbesar setelah padi, sehingga singkong mempunyai potensi sebagai bahan baku yang penting bagi berbagai produk pangan dan industri. Sebagai makanan manusia, singkong mempunyai beberapa kekurangan diantaranya kadar protein dan vitamin yang rendah serta nilai gizi yang tidak seimbang. Disamping itu beberapa jenis singkong mengandung racun HCN yang terasa pahit. Dari dasar itulah secara lokal singkong dibagi menjadi singkong pahit dan singkong manis.
Teknologi singkong yang digunakan manusia sebagian besar masih merupakan warisan atau sedikit mengalami modifikasi dari cara-cara yang telah dipraktekkan manusia di zaman purba, termasuk cara-cara mengurangi dan menghindari racun yang ada di dalam singkong. Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama. Untuk pemasaran yang memerlukan waktu lama, ubi kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain yang lebih awet, seperti gaplek, tapioka (tepung singkong), tapai, peuyeum, keripik singkong, dan lain-lain.
Pada hakekatnya semua makanan yang mengandung karbohidrat diolah adalah ketan dan ubi kayu (berdaging putih atau kuning). Tapai dari ubi kayu (berdaging putih atau kuning). Tapai dari ubi kayu yang berdaging kuning lebih enak daripada yang berwarna putih, karena ubi kayu kuning dagingnya lebih halus tanpa ada serat-serat yang kasar. Ubi kayu yang bagus untuk dibuat tapai adalah yang umurnya 6 bulan – 1 tahun, baru saja dicabut dari kebun dan langsung dikukus.
Kripik merupakan salah satu makanan ringan yang paling disukai masyarakat Indonesia utamanya kalangan anak muda. Hal ini dikarenakan, kripik dapat dibeli dengan harga yang cukup murah, beraneka rasa, renyah dan praktis, dapat dibawa kemana-mana sebagai cemilan sehari-hari.
Dalam proses pengolahannya, tape singkong yang memiliki kadar air yang tinggi dan mudah menglami kerusakan dapat diolah menjadi kerupuk sehingga memiliki daya simpan yang cukup lama. Selain itu, dengan pengolahan ini juga dapat meningkatkan nilai jualnya
Oleh karena itu pada penulisan makalah ini ditujukan dalam pembuatan keripik tape dari singkong dan menganalisis hasil pendapatan yang didapatkan dalam penjualan keripik tape singkong.





1.2       Rumusan Masalah
1.   Bagaimana cara mengolah ubi kayu menjadi produk baru?
2.   Apa saja cara membuat produk dari ubi kayu?
3.   Bagaimana menganalisa Nilai Tambah Ubikayu Menjadi Keripik tape?
4.   Apa potensi yang dimiliki keripik tape?
1.3 Tujuan
2.    Mengetahui proses pengolahan ubi kayu menjadi keripik tape.
3.    Mengetahui analisis pendapatan dari hasil keripik tape.
4.    Mengetahui analisis data Nilai Tambah Ubikayu Menjadi Keripik tape.
5.    Mengetahui potensi yang dimiliki keripik tape.




BAB II
METODELOGI PERCOBAAN
2.1       Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan Adapun alat alat yang di perlukan dalam pembuatan keripik kulit singkong yaitu :  Wajan,  Cutik Panci,  Pisau,  Kompor. Bahan-Bahannya yaitu :  Singkong, Minyak goreng,  Garam,  Bawang putih,  Penyedap rasa, Ragi,Air secukupnya.

2.2       Prosedur Kerja
a. membuat tape singkong



b. membuat keripik tape singkong


c. penjualan dan penganalisaan hasil pendapatan
                                                                                        




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Singkong lebih dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu. Secara keseluruhan tumbuhan ini telah dimanfaatkan, baik daun maupun akarnya. Bagian akar disebut juga umbi, dengan dagingnya berwarna putih atau kekuning-kuningan bila dalam keadaan segar. Umbi singkong tidak tahan disimpan lama tanpa perlakuan khusus setelah dipanen kurang lebih selama dua hari. Pada saat itu, singkong telah mengandung racun yang ditandai oleh perubahan warna daging buahnya menjadi biru gelap. Racun itu adalah asam sianida.    
 Ada beberapa jenis singkong yang dikembangkan di Indonesia. Jenis atau varietas singkong digolongkan berdasarkan kadar asam sianida yang dikandungnya. Ada jenis singkong manis dan singkong pahit. Singkong manis dapat digunakan langsung karena mempunyai kadar asam sianida relatif rendah. Yakni kadarnya di bawah 40 mg asam sianida per kilogram (kg) umbi yang masih segar. Kadar sianida di bawah 40 mg dapat hilang ketika singkong dibilas air atau dimasak sampai matang, sehingga tetap menjadikan umbi singkong tidak dapat dikonsumsi secara langsung dalam keadaan mentah. Untuk kelompok singkong manis, diantaranya gading, adira I, mangi, betawi, metega, randu ranting, dan kaliki. Jenis singkong pahit mempunyai kadar asam sianida di atas 50 mg/kg umbi segar. Umumnya  digunakan untuk keperluan industri, seperti industri tapioka. Golongan singkong pahit adalah basiorao,  adira IV, muara, tapikuru, bogor, adira II, dan SPP. Berdasarkan penelitian beberapa ahli, dikatakan bahwa semakin tinggi kadar asam sianida dalam umbi, maka rasanya akan semakin pahit. Beberapa cara telah diterapkan untuk mengurangi senyawa racun itu, seperti perebusan, pemanasan, pengukusan, pencucian, dan pengeringan. Cara pencucian tergolong efektif untuk mengurangi racun sianida  karena asam sianida mudah terlepas ke dalam air rendaman. Sementara cara pengeringan dapat menguapkan senyawa beracun tersebut. ( Husniati, 2010).
Pada hakekatnya semua makanan yang mengandung karbohidrat diolah adalah ketan dan ubi kayu (berdaging putih atau kuning). Tapai dari ubi kayu (berdaging putih atau kuning). Tapai dari ubi kayu yang berdaging kuning lebih enak daripada yang berwarna putih, karena ubi kayu kuning dagingnya lebih halus tanpa ada serat-serat yang kasar. Ubi kayu yang bagus untuk dibuat tapai adalah yang umurnya 6 bulan – 1 tahun, baru saja dicabut dari kebun dan langsung dikukus. Selama ini orang berpendapat bahwa tapai dan peuyeum adalah sama, tetapi sebenarnya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Tapai dari Jawa Tengah tidak tahan disimpan lama karena cepat sekali berair, sedangkan peuyeum dari Jawa Barat lebih tahan disimpan karena tidak berair. Bahan baku pembuatan tape adalah ubi kayu, untuk pembuatan tape ubi kayu/tape singkong; mula-mula ubi kayu dikupas, dicuci dengan air bersih, kemudian dipotongpotong kira-kira 10 cm atau menurut kesukaan, dan dikukus hingga matang (± 30 menit). Setelah ubi kayu, dimasukkan dalam keranjang atau wadah lainnya, dan ditaburi bubuk ragi tape sebanyak ± 5 – 10 gram untuk setiap kg bahan. Wadah kemudian ditutup, dibiarkan selama 3 hari, dan akhirnya tape siap dimakan atau dipasarkan. Pada proses pembuatan tapai, karbohidrat mengalami proses peragian oleh mikroba atau jasad renik tertentu, sehingga sifat-sifat bahan berubah menjadi lebih enak dan sekaligus mudah dicerna.
            Pada hasil yang kami gunakan disini kami memanfaatkan hasil dari ubi kayu dimana disini dilakukan nya proses pembuatan dari sebuah tape yang lalu digunakan untuk membaut keripik dari tape yang memiliki suatu nilai tambah yang cukup baik hasilnya pada proses pembuatan keripik ini melalui beberapa tahap.
Adapula bahan dan kegunaan beserta fungsinya untuk pembuatan keripik tape disini :
1.    Gula
 Gula pasir atau gula putih telah menjadi bahan makanan pokok dalam berbagai makanan seperti kue, permen, biskuit atau beberapa minuman. Gula putih ini berasal dari tebu dan juga tanaman bit atau umbi-umbian (Adipedia, 2011). Gula digunakan pada berbagai produk makanan. Selain pemberi rasa manis gula dalam konsentrasi tinggi berperan sebagai pengawet. Konsentrasi gula yang tinggi (70%) sudah dapat menghambat pertumbuhan mikroba perusak makanan (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Universitas Sumatera Utara 24 Gula merupakan salah satu bahan pemanis yang sangat penting karena hampir setiap produk mempergunakan gula. Fungsi gula sebagai bahan penambah rasa, sebagai bahan perubah warna dan sebagai bahan untuk memperbaiki susunan dalam jaringan (Subagjo, 2007). Penambahan gula bukan saja untuk menghasilkan rasa manis meskipun sifat ini sangatlah penting. Gula bersifat untuk menyempurnakan rasa asam, cita rasa dan juga kekentalan. Daya larut yang tinggi dari gula memiliki kemampuan mengurangi kelembaban relatif, dan daya mengikat air adalah sifat-sifat yang menyebabkan gula dipakai dalam pengawetan pangan (Buckle, et al, 1987).
2.    Garam
Garam khususnya garam dapur (NaCl) akan dapat menghasilkan berbagai pengaruh terhadap bahan pangan, terutama dapat menghambat mikrobia-mikrobia pembusuk yang mengkontaminasi bahan juga dapat mempengaruhi Aw dari bahan makanan sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikrobia yang tidak dikehendaki (Winarno dan Laksmi, 1982). Fungsi penambahan garam adalah untuk memperbaiki rasa yaitu untuk menetralkan rasa pahit dan rasa asam, membangkitkan rasa selera dan mempertajam rasa manis, selain itu garam mempunyai tekanan osmotik yang tinggi, higroskopik atau terurai menjadi Na+ dan Clyang meracuni sel mikrobia dan mengurangi kelarutan O2 (Purba dan Rusmarilin, 1985).
3.    Bahan pengembang (baking powder)
Pengembang merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengembangkan adonan. Prinsipnya, pengembang merupakan senyawa yang Universitas Sumatera Utara 25 dapat melepas gas di dalam adonan pada suhu dan kadar air yang sesuai. Pada proses penggorengan, gas dari bahan pengembang dilepaskan. Gas yang dilepas bersama-sama udara dan uap air yang mengembang karena panas, terperangkap di dalam struktur adonan menghasilkan produk akhir yang bersifat berongga. Contoh bahan pengembang adalah soda kue dan baking powder (Estiasih dan Ahmadi, 1998).
 Bahan pengembang adonan yang sekarang dipakai menggunakan bahanbahan kimia yang dapat menghasilkan gas CO2. Gas ini diperoleh dari karbonat atau bikarbonat (NaHCO3). Kadang-kadang garam ammonium karbonat atau ammonium bikarbonat juga digunakan, tetapi garam-garam ini terurai pada suhu tinggi (Winarno, 1992). Baking powder adalah bahan pengembang kue yang bertekstur lembut seperti tepung. Baking powder memiliki dua jenis, yaitu single-acting baking powder dan double-acting baking powder. Single-acting baking powder akan bersifat aktif jika dicampur dengan air dan bereaksi hanya dalam satu tahap saja. Sedangkan double-acting baking powder bereaksi dalam dua tahap, sehingga sebelum memanggang adonan kue, adonan dapat dibiarkan beberapa lama agar terjadi pengembangan sempurna (Sukamasak, 2011).
Apabila terlalu banyak baking powder maka kue akan mekar sekali, dan bau yang dihasilkan sedikit menyengat, dan rasanya (baking powder) kebanyakan akan terasa sedikit pahit (Kuebasah, 2011). Baking powder merupakan campuran dari bahan pengembang dengan pengembang yang terdiri dari natrim bikarbonat, pengembang asam, serta bahan Universitas Sumatera Utara 26 pengisi pati dengan standar formula paling sedikit menghasilkan 12% CO2 (b/b) dan NaHCO3 20- 30% (b/b) (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Tabel 4. Komposisi kimia baking powder (%) Komposisi Jumlah (%) Natrium karbonat 30 Natrium bikarbonat 20 Amonium karbonat 7 Amonium bikarbonat 5 Kalium bikarbonat 13 Pengembang asam 8 Bahan pengisi pati 12 Bahan lainnya 5 Sumber : Estiasih dan Ahmadi, 1998 Baking powder merupakan bahan pengembang (leavening agent), yang terdiri dari campuran sodium bikarbonat, sodium alumunium fosfat, dan monokalsium fosfat. Sifat zat ini jika bertemu dengan cairan atau air dan terkena panas akan membentuk karbondioksida. Karbondioksida inilah yang membuat adonan jadi mengembang (ResepmasakanIndonesia, 2011).


4.    Tape
 Tape atau uli (bahasa betawi) adalah salah satu makanan tradisional Indonesia yang dihasilkan dari proses peragian (fermentasi) bahan pangan berkarbohidrat, seperti singkong dan ketan. Tape biasa dibuat dari singkong (ubi kayu) dan hasilnya dinamakan tape singkong. Bila dibuat dari ketan hitam atau ketan putih, hasilnya dinamakan tape pulut atau “tape ketan”. Tape hasil fermentasi umumnya berbentuk semi cair, berasa manis keasaman, mengandung alkohol, dan memiliki tekstur lengket. Umumnya tape diproduksi oleh industri kecil dan menengah sebagai kudapan atau hidangan pencuci mulut (Wikipedia, 2011). Tape sebagai produk makanan cepat rusak karena adanya fermentasi lanjut setelah kondisi optimum fermentasi tercapai, sehingga harus segera dikonsumsi. Namun demikian jika disimpan dalam tempat yang dingin maka akan dapat bertahan 2 minggu. Hasil dari fermentasi lanjut adalah produk yang asam beralkohol, yang tidak enak lagi untuk dikonsumsi (Hidayat, dkk., 2007).
Rasa manis dari tape dipengaruhi oleh kadar gula dari tapenya sendiri. Dalam proses fermentasi itu pati akan diubah menjadi gula oleh kapang dan gula diubah menjadi alkohol. Rasa asam pada tape dapat timbul karena perlakuan-perlakuan yang kurang teliti, seperti penambahan ragi yang berlebihan dan penutupnya yang kurang rapat pada saat fermentasi. Selain itu rasa asam pada tape dapat terjadi bila fermentasi berlangsung lebih lanjut (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan IPB, 1990). Fermentasi gula oleh ragi, misalnya Saccharomyces cereviseae dapat menghasilkan etil alkohol dan CO2 melalui reaksi sebagai berikut : Ragi C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2 (enzim) Reaksi ini merupakan dasar dari pembuatan tape (Winarno, et al., 1980) Pada prinsipnya pembuatan tape adalah perombakan karbohidrat kompleks menjadi senyawa sederhana berupa dekstrin dan glukosa dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh kapang. Senyawa yang lebih sederhana kemudian diubah menjadi alkohol oleh khamir (Harris dan Karmas, 1989). Universitas Sumatera Utara 20 Makanan-makanan yang mengalami fermentasi biasanya mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi daripada bahan asalnya. Hal ini tidak hanya disebabkan karena mikroba bersifat katabolik atau memecah komponen-komponen yang kompleks menjadi yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna (Desrosier, 1988).
5 Pengeringan
Pengeringan merupakan metode pengawetan dengan cara pengurangan kadar air dari bahan pangan sehingga daya simpan menjadi lebih panjang. Perpanjangan daya simpan terjadi karena aktivitas mikroorganisme dan enzim menurun sebagai akibat dari air yang dibutuhkan untuk aktivitasnya tidak cukup (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Pengeringan adalah suatu proses pemindahan panas dan uap air yang memerlukan uap panas untuk menguapkan kandungan air dalam bahan yang dikeringkan. Kemampuan bahan untuk melepaskan air dari permukaannya akan semakin besar dengan meningkatnya suhu udara pengering yang digunakan (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Keuntungan pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengepakan Universitas Sumatera Utara 23 dan pengangkutan, dengan demikian diharapkan biaya produksi menjadi lebih murah (Winarno, 1993).
6.    Penggorengan
Dalam penggorengan minyak goreng berfungsi sebagai medium penghantar panas, penambah rasa gurih, dan penambah nilai gizi dan kalori bahan pangan (Ketaren, 2005). Penggorengan merupakan proses dehidrasi dari produk pangan, baik dari bagian luar maupun keseluruhan produk. Proses penggorengan menggunakan minyak atau lemak sebagai media pindah panas (Estiasih dan Ahmadi, 1998). Kerupuk mentah yang dikonsumsi harus digoreng di dalam minyak goreng panas (suhu 170°C) sambil dibalik-balik selama 1 menit. Kerupuk yang akan digoreng harus cukup kering. Sebaiknya kerupuk mentah dijemur terlebih dahulu sebelum digoreng (Warintek, 2011).
Dan dari hasil penjualan didapatkan data macam-macam analisis penjualan sebagai berikut :
Tabel 1. Analisis bahan baku untuk 1x proses produksi
Pada analisis sesuai dengan data diatas terbagi atas 2 kebutuhan yaitu bahan baku yang berupa ubi kayu,minyak goreng , ragi dan garam dan kebutuhan yang selanjutnya yaitu bahan baku penolong berupa gas ,plastik 1kg, dan karet ikat disini hasil dari analisis data pada bahan baku total nya sebesar Rp.67.000 dan sedangkan oada bahan baku penolong Rp.83.000 dengan total dari analisis bahan baku 1x proses produksi sebesar Rp.150.000.


Tabel 2.Biaya Produksi Pendapatan dan Keuntungan Agroindustri Keripik tape
Pada tabel 2 diatas akan membahasa biaya produksi pendapatan dan keuntungan agroindustri keripik tape, dimana untuk TR sendiri ada rumusnya yang mana adalah
¨  TR = Q x P
Dimana :
            TR = Penerimaan total (total revenue)
            Q = Jumlah produk yang dihasilkan (quantity)
            P = Harga (price)
Dan untu menyangkut tentang tentang keuntungan (pd) dengan rumus berserta keterangan :   Pd = TR – TC
Keterangan :
            Pd = pendapatan yang diterima oleh pengusaha 
            TR = total penerimaan
            TC = total biaya
Dimana pada hasil analisis diatas berdasarkan rumus dan didapatkan hasilnya adalah keuntungan dari hasil penjualan dengan 1 kali produksi adalah Rp.30.000.
Tabel 3. Analisis pendapatan
Pada data tabel 3 diatas dari hasil data dari data tabel 2 dan 1 dapat dimasukan hasil analisis data sesuai dengan tabel diatas sdimana harga jual nya Rp.10.000,Jumlah produksi 18buah, dan total penerimaan adalah sebesar Rp.180.000 dan jumlah total pendapatan disini adalah Rp.180.000(pendapatan kotor).
Tabel 4. Biaya Tetap - Rincian Penggunaan Peralatan
Pada hasil data dari tabel 4 diatas yakni biaya tetap-rincian penggunaan peraltan , dari pengelompokan jenis dan variabel diatas total dari rincian penggunaan alat disini sebesar Rp.488.000 dan jikalau nilai penyusutan sebesar Rp.63.000 maka akan ada feedback uang kembali atas uang sisa yang diperoleh sebesar Rp.330.000.
Tabel 5. Analisis Titik Impas / Break Even Point
Pada hasil tabel dari tabel 5 diatas membahas analisis titik impas dimana disini  Analisis Titik Impas / Break Even  Point memberikan informasi tentang hubungan antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu.
Menurut Riyanto (1997) dalam Shinta (2005), BEP dapat dihitung dengan dua cara yaitu :
1.    Atas dasar penjualan dalam unit
2.    Atas dasar penjualan dalam rupiah
Keterangan :
            P = Harga jual per unit (Rp)
            Q = Jumlah produk yang dihasilkan
            FC = Biaya Tetap pada saat produksi (Rp)
            VC = Biaya Variabel pada saat produksi (Rp)
            TR = Total Penerimaan (Rp)
Dimana dari hasil perhitungan akan tentang bep rupiah disini yaitu didapatka hasil sebesar 2.922.155,68856 dan dan sedangkan untuk BEP unit didapatkan nilai sebesar 53,2363.
Tabel 6. Analisis Nilai Tambah Ubikayu Menjadi Keripik tape
Pada hasil analisis nilai tambah ubi kayu menjadi keripik tape disini sesuai dengan tebel pada tabel 6 dengan perhitungan dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Analisis nilai tambah dapat dijadikan sebagai parameter untuk pengembangan suatu agroindustri. Menurut Sudiono (2001) digunakan analisis nilai tambah, secara matematis nilai tambah dihitung dengan rumus :
Analisis Nilai Tambah
            a. Nilai tambah Broto (NTb)
                        NTb = Na – Ba
                               = Na – ( Bb + BP)
            Ba = 67.000 + 83.000
                             = 150.000
                        NTb = 180.000– 150.000
                               = 30.000
            b. Nilai Tambah Netto ( NTn)
                        NTn = NTb – NP
                               = 30.000 – 0
                               = 30.000
            c. Nilai Tambah Per Bahan Baku
                        NTbb = NTb : Σ bb.
                                 = 30.000: 18
                                 = 1500
Dengan berdasarkan rumus dan hasil perhitunga maka didapatkan nilai tambah per bahan baku sebesar 1500.mlmm
Tabel 7 Analisis Produktivitas
Dari hasil analisis produktivitas disini dilakukan percobaan dan analisis berdasarkan hasil perhitungan dimana nilai produktivitas (a) yaitu 18 kg dan tenaga kerja (b) 5orang dan untuk menentukan produktivitas tenaga kerja dengan cara membangi nilai yaitu (a/b) mendapatkan nilai produktivitas tenaga kerja 3,6kg/orang.





BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1  Kesimpulan
1.    Dalam proses pembuatan keripik tape ini melalui dua proses yang pertama pembuatan tape terlebih dahulu kemudian yaitu pembuatan keripik tape yang disini melalui 2 mekanisme proses dalam pembuatan keripik tape.
2.    Hasil analisis pada data analisis diatas bahwasannya didapatkan untung sebesar 30x dalam 1 kali produksi.
3.    Dalam hasil analisis data diatas keripiki tape memiliki potensi untuk dijual dengan hasil sebagai bukti keuntungan dari penjualan keripik tape ini.
4.    Untuk nilai hasil analisis nilai tambah per bahan baku pada hasil analisis sebesar Rp.1500

4.2  Saran
Untuk menjual keripik tape singkong menggunakan peembungkus dan pengolahan lebih baik dan dalam segi sisi penjualan diharapakan dalam kedepan nya proses penjualan keripik singkong ini lebih maju dan mendapatkan keuntungan setelah titik sebanding dari balik modal.
DAFTAR PUSTAKA
Buckle, K. A., R. A. Edwards, G. H. Fleet, dan M. Wooton, 1987. Ilmu Pangan. Penerjemah H. Purnomo dan Adiono. UI-Press, Jakarta.
Desrosier, N.W., 1988. Teknologi Pengawetan Bahan Pangan. Penerjemah M. Muljohardjo. UI Press, Jakarta
Hidayat, N., M.C. Padaga, dan Suhartini, S, 2007. Mikrobiologi Industri. Andi, Yogyakarta.
Kuebasah, 2011. Perbedaan Baking Powder dengan Soda Kue. http://www.kuebasah.com (2 Juli 2011).
Estiasih, T. dan Ahmadi, 1998. Teknologi Pengolahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta.
Husniati.2010. Memilih Singkong Aman Dimakan, (Online), http://www.radarlampung.co.id/read/opini/6565-memilih-singkong-aman-dimakan-) diakses 10 Januari 2013.
Ketaren, S., 2005. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI-Press. Jakarta
Purba, A dan H. Rusmarilin, 2006. Penuntun Praktikum Teknologi Hewani. USU Press, Medan.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan, 1990. Seri Teknologi Pangan II. IPB-Press, Bogor.
Resepmasakanindonesia, 2011. Mengenal Aneka bahan-bahan kue lain nya termasuk BahanKue.http://resepmasakanindonesia.info (2 Juli 2011).
Subagjo, A., 2007. Manajemen Pengolahan Roti dan Kue. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Sukamasak, 2011. Baking Powder. http://sukamasak.com (2 Juli 2011).
Warintek, 2011. Kerupuk. http://www.warintek.ristek.go.id (2 Juli 2011).
Wikipedia, 2011. Kerupuk. http://id.wikipedia.org (2 Juli 2011)
Winarno, F. G. Daicialn B. S. Laksmi, 1982. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara Pencegahannya. Ghalia Indonesia, Jakarta.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Billqis Hudaibiyah Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare