Alhamdulillah, segala puji
dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat,
karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tepat pada waktunya. Dalam Makalah ini, penulis menjelaskan tentang “ minyak
atsiri sereh wangi”.
Dalam menulis dan menyusun
makalah ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, bantuan serta dukungan dari
berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima
kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penyusan makalah ini baik secara
lansung maupun tidak secara lansung. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kata sempurna karena keterbatasan pengetahuan, wawasan dan kemampuan yang
dimilki oleh penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran
yang bersifat membangun guna kesempurnaan penyusunan makalah ini. Semoga
makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.
Jambi, April 2017
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia merupakan Negara
yang kaya akan sumber daya alam, baik fauna maupun flora merupakan bagian yang
menjadi kebanggaan Negara Indonesia. ini disebabkan oleh kondisi alam yang
strategis dalam penyebaran flora dan fauna seperti kondisi iklim yang tropis
yang menjadikan kondisi tanah di Indonesia cenderung, intensitas sinar matahari yang cukup serta curah hujan yang
relative tinggi menjadikan Indonesia memiliki potensi sumber daya alam.
Salah satu kebanggan
Indonesia ialah tersedianya berbagai macam tanaman yang memiliki khasiat
tertentu bahkan disetiap bagian tanaman tersebut. Dengan kandungan bahan aktif
yang terdapat pada tanaman dapat di jadikan sebagai bahan pembuatan berbagai
produk. Salah satu tanaman yang memiliki potensi penyebaran yang besar adalah
tanaman sereh wangi.
Sereh wangi yang biasanya
dijadikan sebagai rempah-rempah penyedap aroma pada makanan maupun minuman ini
mengandung bahan aktif yakni sitronelal,
sitronelol dan geraniol dimana bahan aktif ini memiliki potensi dalam pembuatan
minyak atsiri. Dalam pengaplikasiannya minyak atsiri dari tanaman sereh wangi
ini telah dijadikan sebagai bahan dalam pembuatan parfum, kosmetik, makanan,
obat-obatan serta aroma terapi. Sehingga tidak heran jika sereh wangi menjadi
komoditas ekspor Indonesia.
Meskipun
ketersediaannya yang cukup melimpah dan mudah dijumpai serta potensi dari bahan
aktifnya yang sangat berguna, tanaman sereh wangi dalam pengolahnnya masih
sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pada penulisan makalah ini ditujukan dalam
pengolahan serta pemanfaatan minyak sereh wangi yang berpotensi sebagai minyak
atsiri.
1.2
Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pengolahan
minyak atsiri dari tanaman sereh wangi?
2. Apa saja pemanfaatan minyak
atsiri sereh wangi?
3. Apa kandungan minyak atsiri
sereh wangi?
4. Apa potensi yang dimiliki
minyak atsiri sereh wangi?
1.3Tujuan
2. Mengetahui proses pengolahan
minyak atsiri dari tanaman sereh wangi
3. Mengetahui pemanfaatan minyak
atsiri sereh wangi
4. Mengetahui kandungan minyak
atsiri sereh wangi
5. Mengetahui potensi yang
dimiliki minyak atsiri sereh wangi.
BAB
II
METODELOGI
PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi seperangkat alat destilasi uap dan microwave. Bahan
yang digunakan adalah daun dan batang serai wangi dengan kondisi bahan (segar
dan layu) dengan ketentuan segar(mulai panen sampai dua jam sesudah panen) dan
layu (mulai dua jam sesudah panen sampai empat hari sesudah panen) sedangkan
perlakuan bahan utuh dan dicacah ± 2 cm (Feriyanto, et al., 2013).
2.2 Prosedur Kerja
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Minyak
sereh wangi adalah minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap daun
tanaman sereh wangi. Secara botani, sereh wangi merupakan tanaman stolonifera,
terdiri dari dua tipe yang dapat dibedakan berdasarkan morfologis dan
fisiologis. Kedua tipe tanaman sereh wangi itu adalah: Cymbopogon nardus Rendle,
lenabatu (Andropogon nardus ceylon de Jong) dan Cymbopogon
winterianus Jowitt, mahapengiri (Andropogon nardus Java de Jong).
Mahapengiri dapat dikenal dari bentuk daunnya yang biasanya lebih pendek dan
lebih lebar daripada lenabatu. Penyulingan sereh wangi tipe mahapengiri
menghasilkan rendemen minyak lebih tinggi daripada lenabatu. Selain itu minyak
dari mahapengiri bermutu lebih baik akibat kadar geraniol dan sitronelal lebih
tinggi (Guenther, 1990).
Berdasarkan data Direktorat
Jenderal Perkebunan tahun 2006, serai wangi (Cymbopogon nardus. L) merupakan salah satu jenis tanaman minyak atsiri, yang
tergolong sudah berkembang. Dari hasil penyulingan daunnya diperoleh minyak
serai wangi yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Citronella Oil.
Minyak serai wangi Indonesia dipasaran dunia terkenal dengan nama “Citronella
Oil of Java”. Volume ekspor minyak serai wangi beberapa tahun terakhir
mengalami penurunan, Pada tahun 2002 mencapai 142 ton dengan nilai 1.066.000 US
$ dan pada tahun 2004 sebesar 114 ton dengan nilai ekspor sebesar 700.000 US $
(Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006).
Diketahui bahwa dalam minyak sereh
wangi ini terkandung komponen yang utama yaitu sitronelal, sitronelol dan
geraniol. Sitronelal, sitronelol dan geraniol termasuk golongan monoterpenoid
yaitu gabungan dari dua kerangka isoprena (Pine, 1988).
Komponen kimia dalam minyak sereh wangi cukup
komplek, namun komponen yang terpenting adalah sitronellal, sitronellol dan
geraniol. Ketiga komponen tersebut menentukan intensitas bau harum, serta nilai
dan harga minyak sereh wangi. Kadar komponen kimia penyusun utama minyak sereh
wangi tidak tetap, dan tergantung pada beberapa faktor. Biasanya jika kadar
geraniol tinggi, maka kadar sitronellal juga tinggi.
Suatu proses memperoleh minyak sereh
wangi dilakukan berdasarkan penelitian Muyassaroh (2012), dimana dalam
penelitian ini bahan yang digunakan adalah daun sereh wangi, etanol, Natrium
bisulfit, n-Heksan, KOH, HCl pekat,
NaCl, dan NaCOOH anhydrous. Prosedur penelitian dimulai dari tahap pengambilan
minyak sereh yaitu sejumlah daun sereh
diangin - anginkan di tempat yang teduh, setelah itu dirajang, direndam dalam
etanol, dipisahkan dengan cara disaring. lalu cairan etanolsereh dimasukkan ke dalam labu leher tiga yang telah berisi
magnetic stirer dan pengaduk dijalankan. Waktu ekstraksi dihitung mulai dari
saat suhu yang diinginkan tercapai dan pengaduk dijalankan selama 240 menit.
Hasil ekstraksi disaring dan filtratnya kemudian didistilasi kurang lebih pada
suhu 80 °C. Hasil bawah yang diperoleh berupa minyak sitronella. Berdasarkan
kromatogram minyak sereh wangi yang dianalisis dengan GCMS, komponen yang teridentifikasi adalah sebagai
berikut: sitronellal, geraniol, linalool, sitonelil asetat,
trans-caryophyllene, α-cadinol, farnesol, elemol, isogeraniol, thujyl alkohol.
Secara umum densitas minyak atsiri tidak melebihi nilai 1,000 gram/mL dan
menurut Standar Nasional Indonesia minyak sereh memiliki densitas antara
(0,850–0,892) gram/mL.
Terdapat banyak cara dalam menghasilkan minyak
atsiri sereh wangi, salah satunya dengan distilasi fraksinasi . Berdasarkan
penelitian Wijayanti (2015), pemisahan tiga komponen utama minyak sereh wangi,
dapat dilakukan dengan distilasi fraksinasi pengurangan tekanan. Dari 500 g
minyak sereh wangi, sitronelal diperoleh sebanyak 10 g dengan % AUC 81,30% dan
210 g dengan % AUC 99,14%. Berdasarkan %AUC dari hasil isolasi dapat
disimpulkan bahwa isolasi sitronelal dengan metode distilasi fraksinasi pengurangan
tekanan menghasilkan sitronelal dengan kemurnian yang tinggi.
Dari beberapa contoh proses menghasilkan minyak
sereh wangi, proses utama yang diangkat pada makalah ini adalah pada
pengambilan minyak atsiri dari daun dan batang serai wangi (Cymbopogon
winterianus) menggunakan metode distilasi uap dan air dengan pemanasan microwave. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Feriyanto (2013) ini, dihasilkan % rendemen sebesar 1,52 % dan lebih
tinggi bila dibanding penelitian terdahulu yaitu hydro distillation dan steam
distillation dengan masing-masing % rendemen sebesar 1, 14 % dan 0,942 %.
Pengaruh bagian dari serai wangi yang menghasilkan % rendemen yang tinggi
adalah pada bagian daun sedangkan kualitas Citronella oil yang tinggi
adalah pada bagian batang. % Citronella serai wangi pada daun segar
sebesar 67,36 %, daun layu sebesar 44,92 %, batang segar 75,16 % dan batang
layu 85,73 % .
Berikut adalah hasil analisa minyak atsiri
dibandingkan dengan standar SNI :

Kecenderungan kenaikan % rendemen minyak serai
wangi seiring kenaikan waktu distilasi dan mengenai pengaruh kondisi dan
perlakuan bahan baku yaitu pada daun dan batang serai wangi, kondisi bahan yang
menghasilkan % rendemen besar adalah saat kondisi bahan layu dibandingkan
kondisi bahan segar sedangkan untuk perlakuan bahan pada daun dan batang %
rendemen besar adalah saat perlakuan bahan dicacah dibanding perlakuan bahan
utuh. Proses pelayuan bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam kelenjar
bahan, sehingga proses ekstraksi lebih mudah dilakukan dan pencacahan merupakan
usaha untuk memperluas area penguapan dan kontak dengan air sehingga atsiri
lebih mudah terekstraksi. Metode
ini menggunakan pemanasan microwave sehingga distribusi dari panas lebih
merata ke semua bagian dari labu dibandingkan dengan heater yang
distribusi panasnya hanya mengenai bagian terluar dari labu, sehingga lebih
efektif dalam pemanfaatan panas untuk ekstraksi minyak atsiri. Waktu yan
dibutuhkan untuk penelitian ini ± 2 jam untuk menghasilkan rendemen yang tinggi dan ini adalah waktu
yang efisien. bagian
yang menghasilkan % rendemen besar pada berbagai suhu yaitu pada bagian dau
dibanding pada bagian batang. Rendemen meningkat seiring kenaikan suhu operasi
distilasi dan hal ini karena semakin tinggi suhu maka pergerakan air lebih
besar karena energi kinetik antar molekul meningkat dan kenaikan suhu dalam
ketel penyuling dapat mempercepat proses difusi, sehingga dalam keadaan seperti
itu seluruh minyak atsiri yang terdapat dalam jaringan tanaman akan terekstrak
dalam jumlah yang lebih besar lagi.
Komponen terbesar yang terdapat pada minyak serai
wangi dari identifikasi melalui Gas Chromatography – Mass Spectrometry (GC
- MS) terdapat 3 komponen yang memiliki % area terbesar adalah Citronellal,
Citronellol dan Geraniol. Dari semua komponen tersebut yang
menjadi standar kualitas minyak serai wangi adalah Citronellal dan %
Citronellal untuk daun segar sebesar 67,36 %, daun layu sebesar 44,92 %,
batang segar sebesar 75,16 % dan batang layu sebesar 85,73 %. Dari data
tersebut dapat diketahui bahwa untuk variabel daun yang mempunyai kualitas
bagus adalah saat kondisi daun segar, hal jaringan tidak begitu mempengaruhi
dalam proses ekstraksi karena kecilnya ketebalan jaringan sedangkan untuk
kondisi daun layu mempunyai kualitas yang rendah karena pada daun ketebalan
jaringan sangat kecil sehingga saat terjadi proses pelayuan akan mengurangi
lagi ketebalan jaringan dan atsiri banyak yang ikut teruapkan seiring waktu
pelayuan. Pada batang kualitas bagus adalah saat kondisi batang layu, hal ini
disebabkan karena ketebalan jaringan pada batang adalah besar sehingga saat
proses pelayuan sangat membantu mengurangi ketebalan dan mengurangi kadar air
yang terdapat pada kelenjar bahan sehingga saat proses ekstraksi dilakukan
banyak atsiri yang terekstrak.
Sitronelal mempunyai rumus molekul C10H18O dan
massa molekul 154,24. Sitronelal adalah konstituen utama minyak sereh wangi dan
dijumpai pula pada minyak atsiri lain, seperti minyak lemon, lemon
grass dan melissa. Sitronelal berwujud cair, mempunyai titik didih
47○C pada tekanan 1 mmHg, larut dalam alkohol, sangat sedikit larut dalam air.
Kegunaan sitronelal adalah sebagai penolak serangga dan pewangi sabun.
Tanaman sereh Jawa tumbuh pada berbagai tanah yang
memiliki kesuburan cukup. Tanah jenis geluh pasiran pada ketinggian 180-450 m
di atas permukaan laut, iklim lembab dengan curah hujan teratur menghasilkan
minyak yang berkualitas tinggi. Hasil minyak sereh yang paling tinggi diperoleh
dari tanaman yang ditanam pada tanah geluh pasiran dengan pH 6,00 hingga
6,50, Sedangkan tanah dengan pH lebih
rendah tidak cocok untuk tanaman sereh.
Tanaman sereh tumbuh paling baik pada ketinggian
180 hingga 450 m di atas permukaan laut. Pada ketinggian yang lebih tinggi daripada 450 m, pertumbuhan
tanaman lambat hingga minyak sereh yang dihasilkan rendah.
Daerah yang beriklim panas dengan cukup sinar
matahari dan curah hujan setiap tahun berkisar 200 hingga 250 cm merupakan syarat utama untuk menghasilkan
daun dan minyak sereh yang baik. Kekeringan yang berkepanjangan atau curah
hujan yang berlebihan akan merusak tanaman sereh. Tanaman yang terlindung akan
mempengaruhi kandungan total geraniol. Pada daerah yang memiliki curah hujan
sedikit perlu memperoleh air dari irigasi (Sastrohamidjojo, 2004).
Sedangkan, untuk teknologi pengolahan dan budidaya
minyak sereh ini meliputi beberapa tahapan sebagai berikut :
Persiapan lahan
Bila lokasi lahannya berupa semak belukar cukup
dibabat, dibakar dan langsung dibajak. Setelah pembukaan lahan dilakukan
pengajiran lubang tanam. Jarak tanam ditanah yang subur 100 x 100 cm, sedangkan
di tanah yang kurang subur 75 x 75 cm. Ukuran lubang tanaman adalah 30 x 30 x
30 cm. Penanaman serai wangi dapat juga dilakukan dengan sisitem parit, ukuran
lebar dan dalam parit sama seperti sistem lubang. Pada lahan yang topografinya
lereng, sebaiknya barisan lubang atau parit tanam searah kountour. Penanaman
serai wangi pada kemiringan lahan 25 - 30º dengan curah hujan 3.500 mm/th,
sebaiknya menggunakan terasering dan pertanaman secara pagar.
Penanaman
Seminggu setelah penyemprotan herbisida penanaman
sudah dapat dilakukan. Penanaman sebaiknya dilakukan di awal atau diakhir
musim hujan ini menghindari penyiraman. Bibit yang ditanam pada musim hujan
akan tumbuh dengan cepat. Bibit serai wangi ditanam 1 atau 2 batang per lubang
tanam. Bila ukuran batang bibit yang akan ditanam cukup besar, cukup
ditanam 1 batang per lubang, tetapi bila kecil-kecil ditanam 2 batang per
lubang. Penanaman dilakukan sampai sedikit diatas pangkal batang, lalu tanah
disekitar bibit dipadatkan.
Penyiangan dan
Penyulaman
Penyiangan pertama dilakukan 1 bulan setelah
tanam selanjutnya tiga bulan sekali atau 4 kali dalam setahun
tergantung pertumbuhan gulma. Sedangkan penyulaman dilakukan bila ada
bibit yang belum tumbuh atau mati dalam kurun waktu satu bulan Setelah tanam.
Penyulaman ini sangat penting untuk mempertahankan jumlah populasi dan
produksi. Bibit yang digunakan untuk penyulaman dapat berasal dari anakan yang
sudah ditanam dan hidup disampingnya atau dari rumpun induk yang sejenis.
Pemupukan
Untuk menjaga kesuburan tanah dan kestabilan
produksi, tanaman serai wangi perlu dipupuk. Pupuk berpengaruh pada produksi
daun dan banyaknya minyak atsiri yang dihasilkan per hektar (Rusli et
al., 1990). Umur satu bulan setelah tanam, beri pupuk Urea sebanyak 25 gram
atau satu sendok makan per rumpun. Pupuk diberikan dengan cara melingkari
rumpun sejarak 25 cm atau satu jeng-kal. Pemupukan dilakukan bersamaan dengan
pengemburan. Dosis pupuk yang dipakai tergantung dari kondisi tanah baik sifat
fisik maupun kesuburannya. pupuk NPK (37 ; 65 ; 65) dengan dosis 150 - 200
kg/ha, 50 kg KCl/ha (Risfaheri, 1990). Pupuk kandang 2 kg per rumpun yang di
berikan 6 bulan sekali.
Panen
Panen pertama dilakukan pada saat tanaman serai
wangi sudah berumur 5 - 6 bulan setelah tanam dengan cara memotong daun serai
wangi pada 5 cm diatas ligula (batas pelepah dengan helaian daun) dari daun
paling bawah yang belum mati atau kering. Panen selanjutnya dapat dilakukan
setiap 3 bulan pada musim hujan dan setiap 4 bulan pada musim kemarau.
Produksi serai wangi sejak dari panen 1 sampai ke 3 meningkat, tetapi panen
berikutnya sampai panen ke 7 produksi turun hampir 50%. Terjadinya penurunan
produksi daun segar dan minyak setelah tahun ketiga adalah karena dengan
meningkatnya umur rumpun tumbuhnya makin ke atas, sehingga akar baru yang
tumbuh tidak dapat mencapai tanah yang menyediakan hara. Oleh karena itu untuk
meningkatkan produksi daunnya diperlukan tindakan budidaya terutama
pembum-bunan sekitar rumpun (Mansur, 1990). Untuk tanah yang subur dan tanaman
terpelihara dengan baik, hasil daun segar berkisar 50 – 70 ton/ha/th. Sedangkan
untuk tanaman yang tidak terpelihara dengan baik, Produksinya hanya antara 15 -
20 ton daun segar/ha/ th. (Rusli at al., 1990).
Pasca panen
Jumlah dan mutu serai wangi yang dihasilkan selain
ditentukan oleh jenis tanaman kondisi iklim dan tanah, serta mutu daun waktu
panen, juga ditentukan oleh cara penanganan daun setelah panen dan penyulingan.
Penanganan daun sebelum disuling yang kurang tepat dapat menurunkan produksi
dan mutu minyak. Daun serai wangi yang akan disuling tidak perlu dipotong-potong
pendek. Tetapi sebaiknya daun serai wangi tersebut dijemur selama 3 - 4 jam
atau disimpan di tempat teduh 3 - 4 hari. Sebetulnya mutu minyak yang terbaik
diperoleh dari penyulingan daun segar. Penjemuran dan pelayuan daun serai wangi
sebelum disuling pada batas tertentu tidak berpengaruh terhadap rendemen
minyak. Malahan penjemuran dan pelayuan yang terlalu lama dapat menurunkan
kadar sitronellal dan total geraniol dalam minyak. Tetapi dengan penjemuran
atau pelayuan jumlah bahan yang dapat disuling setiap kali penyulingan
bertambah besar, sehingga penyulingan bahan dalam keadaan kering lebih
efiisien. Lama penyulingan untuk ketel penyuling kapasitas 1 ton daun adalah 5
jam dengan kecepatan penyulingan 120 kg uap/jam. Rendemen minyak yang
dihasilkan sekitar 0,7 – 0,9%. Sebaiknya ketel penyulingan diberi isolasi
untulk mencegah kehilangan panas.
Hasil fraksi aktif minyak sereh wangi dapat
diaplikasikan dalam berbagai industri diantaranya kosmetik dengan produk skin
lotion penolak nyamuk yang merupakan bahan insektisida alami yang murah dan
efektif dalam mengusir nyamuk serta dapat digunakan secara aman dan praktis.
Aplikasi ini dikembangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Setyaningish, et al., (2007), Bahan-bahan yang
digunakan dalam pem-buatan skin lotion adalah sun screen, gliserin,
thickening, mineral oil, cetil alkohol, silikon dan preservatif. Sun
screen berfungsi sebagai ultra violet filter, yaitu melindungi kulit dari
panas matahari juga sebagai bahan dasar pembuatan krim/lotion. Gliserin berfungsi
sebagai humectant, yaitu me-nahan air di bawah lapisan kulit agar tidak
keluar sehingga mencegah kehilangan air yang berlebihan. Thickening merupakan
pengental yang berfungsi sebagai pengikat fasa minyak dan fasa air yang terkait
dengan hidrofil lipofil balance. Mineral oil dan silikon berfungsi
sebagai pelembab (moistu-rizing) kulit. Cetil alkohol berfungsi
sebagai surfak-tan dan emmolient, dan pelembab. Bahan Aktif yang
digunakan dalam pembuatan skin lotion penolak nyamuk adalah minyak sereh
wangi dn geraniol. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa se-luruh skin
lotion memberikan hasil negatif terhadap jumlah gigitan nyamuk, jadi minyak
sereh wangi dan geraniol dapat digunakan sebagai zat aktif penolak nyamuk.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
1. Proses pengolahan minyak atsiri
dari tanaman sereh wangi dapat dilakukan dengan metode distilasi dan ekstraksi.
2. Pemanfaatan minyak atsiri sereh
wangi dapat digunakan sebagai sebagai
bahan baku untuk membuat sampo, pasta gigi, losion, pestisida nabati dan juga
pewangi sabun.
3. Kandungan minyak atsiri sereh
wangi banyak komponen kimia dan tiga besar komponennya yaitu
sitronelal, geraniol, sitronelol dan sisa hasil destilasi mengandung sekitar 2
% nitrogen yang dapat digunakan sebagai pupuk.
4. Potensi yang dimiliki minyak
atsiri sereh wangi sebagai penolak serangga dan kucing, untuk perawatan kulit, dan
Sebagai obat urut.
DAFTAR PUSTAKA
Guenther, E. 1990. Minyak
Atsiri Jilid IV A. Jakarta : UI
Press.
Muyassaroh, M. 2012. Sitronellal
Dari Minyak Sereh Wangi Dengan Variasi Kecepatan Pengadukan Dan Penambahan
Natrium Bisulfit. Jurnal . Vol 1(1) :
1-4.
Pine. 1988. Organic Chemistry
Fourth Edition. New York: McGraw-Hill.
Sastrohamidjojo, H. 1981. Study
of Some Indonesian Essential Oils.
Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Setyaningsih,
D., E. Hambali., dan M. Nasution. 2007. Aplikasi
Minyak Sereh Wangi (Citronella Oil) dan Geraniol Dalam Pembuatan Skin
Lotion Penolak Nyamuk. Jurnal Teknologi Industri Pertanian. Vol
17(3) : 97-103.
Wijayanti, L.W. 2015. Isolasi Sitronellal Dari
Minyak Sereh Wangi (Cymbopogon Winterianus Jowit) Dengan Distilasi
Fraksinasi Pengurangan Tekanan. Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas. Vol
12(1): 22-29.
Windholz, M., S. Budavari,
R.F., Blumetti dan E.S Otterbein. 1983. The Merck Index. Merck and Index. Co.
0 komentar:
Posting Komentar