Sabtu, 09 September 2017

Minyak Atsiri Sereh Wangi

di September 09, 2017

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tepat pada waktunya. Dalam Makalah ini, penulis menjelaskan tentang “ minyak atsiri sereh wangi”.
Dalam menulis dan menyusun makalah ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penyusan makalah ini baik secara lansung maupun tidak secara lansung. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan pengetahuan, wawasan dan kemampuan yang dimilki oleh penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

                                                                   Jambi,         April 2017

                             Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam, baik fauna maupun flora merupakan bagian yang menjadi kebanggaan Negara Indonesia. ini disebabkan oleh kondisi alam yang strategis dalam penyebaran flora dan fauna seperti kondisi iklim yang tropis yang menjadikan kondisi tanah di Indonesia cenderung, intensitas sinar  matahari yang cukup serta curah hujan yang relative tinggi menjadikan Indonesia memiliki potensi sumber daya alam.
Salah satu kebanggan Indonesia ialah tersedianya berbagai macam tanaman yang memiliki khasiat tertentu bahkan disetiap bagian tanaman tersebut. Dengan kandungan bahan aktif yang terdapat pada tanaman dapat di jadikan sebagai bahan pembuatan berbagai produk. Salah satu tanaman yang memiliki potensi penyebaran yang besar adalah tanaman sereh wangi.
Sereh wangi yang biasanya dijadikan sebagai rempah-rempah penyedap aroma pada makanan maupun minuman ini mengandung bahan aktif yakni sitronelal, sitronelol dan geraniol dimana bahan aktif ini memiliki potensi dalam pembuatan minyak atsiri. Dalam pengaplikasiannya minyak atsiri dari tanaman sereh wangi ini telah dijadikan sebagai bahan dalam pembuatan parfum, kosmetik, makanan, obat-obatan serta aroma terapi. Sehingga tidak heran jika sereh wangi menjadi komoditas ekspor Indonesia.
          Meskipun ketersediaannya yang cukup melimpah dan mudah dijumpai serta potensi dari bahan aktifnya yang sangat berguna, tanaman sereh wangi dalam pengolahnnya masih sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pada penulisan makalah ini ditujukan dalam pengolahan serta pemanfaatan minyak sereh wangi yang berpotensi sebagai minyak atsiri.


1.2     Rumusan Masalah
1.  Bagaimana proses pengolahan minyak atsiri dari tanaman sereh wangi?
2.  Apa saja pemanfaatan minyak atsiri sereh wangi?
3.  Apa kandungan minyak atsiri sereh wangi?
4.  Apa potensi yang dimiliki minyak atsiri sereh wangi?
1.3Tujuan
2.    Mengetahui proses pengolahan minyak atsiri dari tanaman sereh wangi
3.    Mengetahui pemanfaatan minyak atsiri sereh wangi
4.    Mengetahui kandungan minyak atsiri sereh wangi
5.    Mengetahui potensi yang dimiliki minyak atsiri sereh wangi.



BAB II
METODELOGI PERCOBAAN
2.1     Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi seperangkat alat destilasi uap dan microwave. Bahan yang digunakan adalah daun dan batang serai wangi dengan kondisi bahan (segar dan layu) dengan ketentuan segar(mulai panen sampai dua jam sesudah panen) dan layu (mulai dua jam sesudah panen sampai empat hari sesudah panen) sedangkan perlakuan bahan utuh dan dicacah ± 2 cm (Feriyanto, et al., 2013).
2.2     Prosedur Kerja



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

          Minyak sereh wangi adalah minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap daun tanaman sereh wangi. Secara botani, sereh wangi merupakan tanaman stolonifera, terdiri dari dua tipe yang dapat dibedakan berdasarkan morfologis dan fisiologis. Kedua tipe tanaman sereh wangi itu adalah: Cymbopogon nardus Rendle, lenabatu (Andropogon nardus ceylon de Jong) dan Cymbopogon winterianus Jowitt, mahapengiri (Andropogon nardus Java de Jong). Mahapengiri dapat dikenal dari bentuk daunnya yang biasanya lebih pendek dan lebih lebar daripada lenabatu. Penyulingan sereh wangi tipe mahapengiri menghasilkan rendemen minyak lebih tinggi daripada lenabatu. Selain itu minyak dari mahapengiri bermutu lebih baik akibat kadar geraniol dan sitronelal lebih tinggi (Guenther, 1990).
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2006, serai wangi (Cymbopogon nardus. L) merupakan salah satu jenis tanaman minyak atsiri, yang tergolong sudah berkembang. Dari hasil penyulingan daunnya diperoleh minyak serai wangi yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Citronella Oil. Minyak serai wangi Indonesia dipasaran dunia terkenal dengan nama “Citronella Oil of Java”. Volume ekspor minyak serai wangi beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, Pada tahun 2002 mencapai 142 ton dengan nilai 1.066.000 US $ dan pada tahun 2004 sebesar 114 ton dengan nilai ekspor sebesar 700.000 US $ (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006).
          Diketahui bahwa dalam minyak sereh wangi ini terkandung komponen yang utama yaitu sitronelal, sitronelol dan geraniol. Sitronelal, sitronelol dan geraniol termasuk golongan monoterpenoid yaitu gabungan dari dua kerangka isoprena (Pine, 1988).
Komponen kimia dalam minyak sereh wangi cukup komplek, namun komponen yang terpenting adalah sitronellal, sitronellol dan geraniol. Ketiga komponen tersebut menentukan intensitas bau harum, serta nilai dan harga minyak sereh wangi. Kadar komponen kimia penyusun utama minyak sereh wangi tidak tetap, dan tergantung pada beberapa faktor. Biasanya jika kadar geraniol tinggi, maka kadar sitronellal juga tinggi.
          Suatu proses memperoleh minyak sereh wangi dilakukan berdasarkan penelitian Muyassaroh (2012), dimana dalam penelitian ini bahan yang digunakan adalah daun sereh wangi, etanol, Natrium bisulfit,  n-Heksan, KOH, HCl pekat, NaCl, dan NaCOOH anhydrous. Prosedur penelitian dimulai dari tahap pengambilan minyak sereh yaitu  sejumlah daun sereh diangin - anginkan di tempat yang teduh, setelah itu dirajang, direndam dalam etanol, dipisahkan dengan cara disaring. lalu cairan etanolsereh dimasukkan  ke dalam labu leher tiga yang telah berisi magnetic stirer dan pengaduk dijalankan. Waktu ekstraksi dihitung mulai dari saat suhu yang diinginkan tercapai dan pengaduk dijalankan selama 240 menit. Hasil ekstraksi disaring dan filtratnya kemudian didistilasi kurang lebih pada suhu 80 °C. Hasil bawah yang diperoleh berupa minyak sitronella. Berdasarkan kromatogram minyak sereh wangi yang dianalisis dengan GCMS,  komponen yang teridentifikasi adalah sebagai berikut: sitronellal, geraniol, linalool, sitonelil asetat, trans-caryophyllene, α-cadinol, farnesol, elemol, isogeraniol, thujyl alkohol. Secara umum densitas minyak atsiri tidak melebihi nilai 1,000 gram/mL dan menurut Standar Nasional Indonesia minyak sereh memiliki densitas antara (0,850–0,892) gram/mL.
Terdapat banyak cara dalam menghasilkan minyak atsiri sereh wangi, salah satunya dengan distilasi fraksinasi . Berdasarkan penelitian Wijayanti (2015), pemisahan tiga komponen utama minyak sereh wangi, dapat dilakukan dengan distilasi fraksinasi pengurangan tekanan. Dari 500 g minyak sereh wangi, sitronelal diperoleh sebanyak 10 g dengan % AUC 81,30% dan 210 g dengan % AUC 99,14%. Berdasarkan %AUC dari hasil isolasi dapat disimpulkan bahwa isolasi sitronelal dengan metode distilasi fraksinasi pengurangan tekanan menghasilkan sitronelal dengan kemurnian yang tinggi.
Dari beberapa contoh proses menghasilkan minyak sereh wangi, proses utama yang diangkat pada makalah ini adalah pada pengambilan minyak atsiri dari daun dan batang serai wangi (Cymbopogon winterianus) menggunakan metode distilasi uap dan air dengan pemanasan microwave. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Feriyanto (2013) ini, dihasilkan % rendemen sebesar 1,52 % dan lebih tinggi bila dibanding penelitian terdahulu yaitu hydro distillation dan steam distillation dengan masing-masing % rendemen sebesar 1, 14 % dan 0,942 %. Pengaruh bagian dari serai wangi yang menghasilkan % rendemen yang tinggi adalah pada bagian daun sedangkan kualitas Citronella oil yang tinggi adalah pada bagian batang. % Citronella serai wangi pada daun segar sebesar 67,36 %, daun layu sebesar 44,92 %, batang segar 75,16 % dan batang layu 85,73 % .
Berikut adalah hasil analisa minyak atsiri dibandingkan dengan standar SNI :
Kecenderungan kenaikan % rendemen minyak serai wangi seiring kenaikan waktu distilasi dan mengenai pengaruh kondisi dan perlakuan bahan baku yaitu pada daun dan batang serai wangi, kondisi bahan yang menghasilkan % rendemen besar adalah saat kondisi bahan layu dibandingkan kondisi bahan segar sedangkan untuk perlakuan bahan pada daun dan batang % rendemen besar adalah saat perlakuan bahan dicacah dibanding perlakuan bahan utuh. Proses pelayuan bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam kelenjar bahan, sehingga proses ekstraksi lebih mudah dilakukan dan pencacahan merupakan usaha untuk memperluas area penguapan dan kontak dengan air sehingga atsiri lebih mudah terekstraksi. Metode ini menggunakan pemanasan microwave sehingga distribusi dari panas lebih merata ke semua bagian dari labu dibandingkan dengan heater yang distribusi panasnya hanya mengenai bagian terluar dari labu, sehingga lebih efektif dalam pemanfaatan panas untuk ekstraksi minyak atsiri. Waktu yan dibutuhkan untuk penelitian ini ± 2 jam untuk menghasilkan  rendemen yang tinggi dan ini adalah waktu yang efisien. bagian yang menghasilkan % rendemen besar pada berbagai suhu yaitu pada bagian dau dibanding pada bagian batang. Rendemen meningkat seiring kenaikan suhu operasi distilasi dan hal ini karena semakin tinggi suhu maka pergerakan air lebih besar karena energi kinetik antar molekul meningkat dan kenaikan suhu dalam ketel penyuling dapat mempercepat proses difusi, sehingga dalam keadaan seperti itu seluruh minyak atsiri yang terdapat dalam jaringan tanaman akan terekstrak dalam jumlah yang lebih besar lagi.
Komponen terbesar yang terdapat pada minyak serai wangi dari identifikasi melalui Gas Chromatography – Mass Spectrometry (GC - MS) terdapat 3 komponen yang memiliki % area terbesar adalah Citronellal, Citronellol dan Geraniol. Dari semua komponen tersebut yang menjadi standar kualitas minyak serai wangi adalah Citronellal dan % Citronellal untuk daun segar sebesar 67,36 %, daun layu sebesar 44,92 %, batang segar sebesar 75,16 % dan batang layu sebesar 85,73 %. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa untuk variabel daun yang mempunyai kualitas bagus adalah saat kondisi daun segar, hal jaringan tidak begitu mempengaruhi dalam proses ekstraksi karena kecilnya ketebalan jaringan sedangkan untuk kondisi daun layu mempunyai kualitas yang rendah karena pada daun ketebalan jaringan sangat kecil sehingga saat terjadi proses pelayuan akan mengurangi lagi ketebalan jaringan dan atsiri banyak yang ikut teruapkan seiring waktu pelayuan. Pada batang kualitas bagus adalah saat kondisi batang layu, hal ini disebabkan karena ketebalan jaringan pada batang adalah besar sehingga saat proses pelayuan sangat membantu mengurangi ketebalan dan mengurangi kadar air yang terdapat pada kelenjar bahan sehingga saat proses ekstraksi dilakukan banyak atsiri yang terekstrak.
Sitronelal mempunyai rumus molekul C10H18O dan massa molekul 154,24. Sitronelal adalah konstituen utama minyak sereh wangi dan dijumpai pula pada minyak atsiri lain, seperti minyak lemon, lemon grass dan melissa. Sitronelal berwujud cair, mempunyai titik didih 47○C pada tekanan 1 mmHg, larut dalam alkohol, sangat sedikit larut dalam air. Kegunaan sitronelal adalah sebagai penolak serangga dan pewangi sabun.
Tanaman sereh Jawa tumbuh pada berbagai tanah yang memiliki kesuburan cukup. Tanah jenis geluh pasiran pada ketinggian 180-450 m di atas permukaan laut, iklim lembab dengan curah hujan teratur menghasilkan minyak yang berkualitas tinggi. Hasil minyak sereh yang paling tinggi diperoleh dari tanaman yang ditanam pada tanah geluh pasiran dengan pH 6,00 hingga 6,50,  Sedangkan tanah dengan pH lebih rendah tidak cocok untuk tanaman sereh.
Tanaman sereh tumbuh paling baik pada ketinggian 180 hingga 450 m di atas permukaan laut. Pada ketinggian  yang lebih tinggi daripada 450 m, pertumbuhan tanaman lambat hingga minyak sereh yang dihasilkan rendah.
Daerah yang beriklim panas dengan cukup sinar matahari dan curah hujan setiap tahun berkisar 200 hingga 250  cm merupakan syarat utama untuk menghasilkan daun dan minyak sereh yang baik. Kekeringan yang berkepanjangan atau curah hujan yang berlebihan akan merusak tanaman sereh. Tanaman yang terlindung akan mempengaruhi kandungan total geraniol. Pada daerah yang memiliki curah hujan sedikit perlu memperoleh air dari irigasi (Sastrohamidjojo, 2004).
Sedangkan, untuk teknologi pengolahan dan budidaya minyak sereh ini meliputi beberapa tahapan sebagai berikut :
Persiapan lahan
Bila lokasi lahannya berupa semak belukar cukup dibabat, dibakar dan langsung dibajak. Setelah pembukaan lahan dilakukan pengajiran lubang tanam. Jarak tanam ditanah yang subur 100 x 100 cm, sedangkan di tanah yang kurang subur 75 x 75 cm. Ukuran lubang tanaman adalah 30 x 30 x 30 cm. Penanaman serai wangi dapat juga dilakukan dengan sisitem parit, ukuran lebar dan dalam parit sama seperti sistem lubang. Pada lahan yang topografinya lereng, sebaiknya barisan lubang atau parit tanam searah kountour.  Penanaman serai wangi pada kemiringan lahan 25 - 30º dengan curah hujan 3.500 mm/th, sebaiknya menggunakan terasering dan pertanaman secara pagar.
Penanaman
Seminggu setelah penyemprotan herbisida penanaman sudah dapat dilakukan.  Penanaman sebaiknya dilakukan di awal atau diakhir musim hujan ini menghindari penyiraman. Bibit yang ditanam pada musim hujan akan tumbuh dengan cepat. Bibit serai wangi ditanam 1 atau 2 batang per lubang tanam.  Bila ukuran batang bibit yang akan ditanam cukup besar, cukup ditanam 1 batang per lubang, tetapi bila kecil-kecil ditanam 2 batang per lubang. Penanaman dilakukan sampai sedikit diatas pangkal batang, lalu tanah disekitar bibit dipadatkan.
Penyiangan dan Penyulaman
Penyiangan  pertama dilakukan 1 bulan setelah tanam selanjutnya tiga bulan sekali  atau 4 kali dalam setahun  tergantung  pertumbuhan gulma. Sedangkan penyulaman dilakukan bila ada bibit yang belum tumbuh atau mati dalam kurun waktu satu bulan Setelah tanam. Penyulaman ini sangat penting untuk mempertahankan jumlah populasi dan produksi. Bibit yang digunakan untuk penyulaman dapat berasal dari anakan yang sudah ditanam dan hidup disampingnya atau dari rumpun induk yang sejenis.
Pemupukan
Untuk menjaga kesuburan tanah dan kestabilan produksi, tanaman serai wangi perlu dipupuk. Pupuk berpengaruh pada produksi daun dan banyaknya minyak atsiri yang dihasilkan per hektar (Rusli et al., 1990). Umur satu bulan setelah tanam, beri pupuk Urea sebanyak 25 gram atau satu sendok makan per rumpun. Pupuk diberikan dengan cara melingkari rumpun sejarak 25 cm atau satu jeng-kal. Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengemburan. Dosis pupuk yang dipakai tergantung dari kondisi tanah baik sifat fisik maupun kesuburannya. pupuk NPK (37 ; 65 ; 65) dengan dosis 150 - 200 kg/ha, 50 kg KCl/ha (Risfaheri, 1990). Pupuk kandang 2 kg per rumpun yang di berikan 6 bulan sekali.
Panen
Panen pertama dilakukan pada saat tanaman serai wangi sudah berumur 5 - 6 bulan setelah tanam dengan cara memotong daun serai wangi pada 5 cm diatas ligula (batas pelepah dengan helaian daun) dari daun paling bawah yang belum mati atau kering. Panen selanjutnya dapat dilakukan setiap 3 bulan pada musim hujan dan setiap 4 bulan pada musim kemarau.  Produksi serai wangi sejak dari panen 1 sampai ke 3 meningkat, tetapi panen berikutnya sampai panen ke 7 produksi turun hampir 50%. Terjadinya penurunan produksi daun segar dan minyak setelah tahun ketiga adalah karena dengan meningkatnya umur rumpun tumbuhnya makin ke atas, sehingga akar baru yang tumbuh tidak dapat mencapai tanah yang menyediakan hara. Oleh karena itu untuk meningkatkan produksi daunnya diperlukan tindakan budidaya terutama pembum-bunan sekitar rumpun (Mansur, 1990). Untuk tanah yang subur dan tanaman terpelihara dengan baik, hasil daun segar berkisar 50 – 70 ton/ha/th. Sedangkan untuk tanaman yang tidak terpelihara dengan baik, Produksinya hanya antara 15 - 20 ton daun segar/ha/ th. (Rusli at al., 1990).
Pasca panen
Jumlah dan mutu serai wangi yang dihasilkan selain ditentukan oleh jenis tanaman kondisi iklim dan tanah, serta mutu daun waktu panen, juga ditentukan oleh cara penanganan daun setelah panen dan penyulingan. Penanganan daun sebelum disuling yang kurang tepat dapat menurunkan produksi dan mutu minyak. Daun serai wangi yang akan disuling tidak perlu dipotong-potong pendek. Tetapi sebaiknya daun serai wangi tersebut dijemur selama 3 - 4 jam atau disimpan di tempat teduh 3 - 4 hari. Sebetulnya mutu minyak yang terbaik diperoleh dari penyulingan daun segar. Penjemuran dan pelayuan daun serai wangi sebelum disuling pada batas tertentu tidak berpengaruh terhadap rendemen minyak. Malahan penjemuran dan pelayuan yang terlalu lama dapat menurunkan kadar sitronellal dan total geraniol dalam minyak. Tetapi dengan penjemuran atau pelayuan jumlah bahan yang dapat disuling setiap kali penyulingan bertambah besar, sehingga penyulingan bahan dalam keadaan kering lebih efiisien. Lama penyulingan untuk ketel penyuling kapasitas 1 ton daun adalah 5 jam dengan kecepatan penyulingan 120 kg uap/jam.  Rendemen minyak yang dihasilkan sekitar 0,7 – 0,9%. Sebaiknya ketel penyulingan diberi isolasi untulk mencegah kehilangan panas.
Hasil fraksi aktif minyak sereh wangi dapat diaplikasikan dalam berbagai industri diantaranya kosmetik dengan produk skin lotion penolak nyamuk yang merupakan bahan insektisida alami yang murah dan efektif dalam mengusir nyamuk serta dapat digunakan secara aman dan praktis. Aplikasi ini dikembangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Setyaningish, et al., (2007), Bahan-bahan yang digunakan dalam pem-buatan skin lotion adalah sun screen, gliserin, thickening, mineral oil, cetil alkohol, silikon dan preservatif. Sun screen berfungsi sebagai ultra violet filter, yaitu melindungi kulit dari panas matahari juga sebagai bahan dasar pembuatan krim/lotion. Gliserin berfungsi sebagai humectant, yaitu me-nahan air di bawah lapisan kulit agar tidak keluar sehingga mencegah kehilangan air yang berlebihan. Thickening merupakan pengental yang berfungsi sebagai pengikat fasa minyak dan fasa air yang terkait dengan hidrofil lipofil balance. Mineral oil dan silikon berfungsi sebagai pelembab (moistu-rizing) kulit. Cetil alkohol berfungsi sebagai surfak-tan dan emmolient, dan pelembab. Bahan Aktif yang digunakan dalam pembuatan skin lotion penolak nyamuk adalah minyak sereh wangi dn geraniol. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa se-luruh skin lotion memberikan hasil negatif terhadap jumlah gigitan nyamuk, jadi minyak sereh wangi dan geraniol dapat digunakan sebagai zat aktif penolak nyamuk.



BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1.   Proses pengolahan minyak atsiri dari tanaman sereh wangi dapat dilakukan dengan metode distilasi dan ekstraksi.
2.    Pemanfaatan minyak atsiri sereh wangi dapat digunakan sebagai sebagai bahan baku untuk membuat sampo, pasta gigi, losion, pestisida nabati dan juga pewangi sabun.
3.    Kandungan minyak atsiri sereh wangi banyak komponen kimia dan tiga besar komponennya yaitu sitronelal, geraniol, sitronelol dan sisa hasil destilasi mengandung sekitar 2 % nitrogen yang dapat digunakan sebagai pupuk.

4.    Potensi yang dimiliki minyak atsiri sereh wangi sebagai penolak serangga dan kucing, untuk perawatan kulit, dan Sebagai obat urut.

DAFTAR PUSTAKA
Guenther, E. 1990. Minyak Atsiri Jilid IV A. Jakarta : UI Press.
Muyassaroh, M. 2012. Sitronellal Dari Minyak Sereh Wangi Dengan Variasi Kecepatan Pengadukan Dan Penambahan Natrium Bisulfit. Jurnal . Vol 1(1) : 1-4.
Pine. 1988. Organic Chemistry Fourth Edition. New York: McGraw-Hill.
Sastrohamidjojo, H. 1981. Study of Some Indonesian Essential Oils. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Setyaningsih, D., E. Hambali., dan M. Nasution. 2007. Aplikasi Minyak Sereh Wangi (Citronella Oil) dan Geraniol Dalam Pembuatan Skin Lotion Penolak Nyamuk. Jurnal Teknologi Industri Pertanian. Vol 17(3) : 97-103.
Wijayanti, L.W. 2015. Isolasi Sitronellal Dari Minyak Sereh Wangi (Cymbopogon Winterianus Jowit) Dengan Distilasi Fraksinasi Pengurangan Tekanan. Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas. Vol 12(1): 22-29.
Windholz, M., S. Budavari, R.F., Blumetti dan E.S Otterbein. 1983. The Merck Index. Merck and Index. Co.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Billqis Hudaibiyah Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare