BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pemuda merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan bernegara. Tanpa ada
nya pemuda maka suatu negara tidak dapat menjalani fungsinya dengan baik.Dengan
adanya semangat dari para pemuda maka diharapkan negara dapat menjadi
sekelompok manusia lebih baik.Masalah pemuda dewasa ini merupakan hal yang
sulit untuk diatasi. Banyak dari generasi pemuda dalam masa perubahan dari
remaja menuju ke proses pendewasaan diri.
Masalah-masalah pemuda ini disebakan karena sebagai akibat
dari proses
pendewasaan seseorang,
penyusuan diri dengan situasi yang baru dan timbulah harapan setiap pemuda
karena akan mempunyai masa depan yang baik daripada orang tuanya. Proses
perubahan itu terjadi secara lambat dan teratur (evolusi).
Sebagian besar pemuda mengalami pendidikan yang lebih
daripada orang tuanya. Orang tua sebagai peer group yang memberikan bimbingan,
pengarahan, karena merupakan norma-norma masyarakat, sehingga dapat
dipergunakan dalam hidupnya. Banyak sekali masalah yang tidak terpecahkan
karena kejadian yang menimpa mereka belum pernah dialami dan diuangkapkannya.
1.2
Rumusan Masalah
1.Permasalahan
pemuda yang ada di SMAN 4 Kota Jambi
2.Penyebab
permasalahan yang ada di SMAN 4 Kota Jambi
1.3
Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang permasalahan yang terjadi di alami pemuda (
Siswa SMAN 4 Kota Jambi), penyebab permasalahan yang terjadi, dan penanganan
masalah tersebut.
1.4 Metode
Penulisan
Penulisan
makalah ini menggunakan metode observasi, yaitu melakukan wawancara kepada
Humas dan wakil kesiswaan di SMAN 4 Kota
Jambi.
BAB II
LANDASAN TEORI
Pemuda secara harfiah, kamus Websters, Princeton mengartikan bahwa youth
yang diterjemahkan sebagai pemuda memiliki definisi : (1) a young person,
(2) the time of life between childhood and maturity, (3) early
maturity. Sementara itu, International Youth Year yang
diselenggarakan tahun 1985, mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun sebagai
kelompok pemuda (Yosita, 2006).
Secara harfiah youth yang diterjemahkan sebagai
pemuda, adalah the time of life between childhood and maturity, early maturity,
the state of being young or immature or inexperienced, the freshness and
vitality characteristic of a young person . Definisi ini, dapat diinterpretasikan
pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, penuh vitalitas,
bergejolak dan optimis akan tetapi belum memiliki pengendalian emosi yang
stabil karena masa transisional psikologisnya. Peran pemuda selalu sentral
dalam perubahan, mengingat dalam jiwa pemuda selalu ada hasrat yang
dinamis.Ciri khas dari seorang pemuda adalah semangatnya yang menyala-nyala,
bahkan terkadang kurang memiliki perhitungan.Selain itu pemuda juga secara
fisik lebih kuat dibandingkan usiausia diatasnya. Sehingga tidaklah berlebihan
jika dikatakan bahwa usia muda adalah usia yang paling produktif dalam diri
manusia.Masa muda atau masa remaja
merupakan proses tumbuh menjadi dewasa. Karena mengacu pada pertumbuhan
spesifik.Hal ini bisa berlaku untuk pertumbuhan fisiologis atau sosial, Oleh
karena itu perlu untuk menyepakati arti yang lebih khusus.Masa remaja dalam
arti sosiologis mengacu pada pengalaman melewati suatu fase yang terletak di
antara masa kanak-kanak dan dewasa (Wibawa, 2013).
Pemuda merupakan aset bangsa,
bangsa yang kuat dapat diukur dari kekuatan nasionalisme generasi
mudanya.Sebagai bagian yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah
perjuangan bangsa Indonesia, Pemuda mempunyai peran dan posisi yang sangat
strategis.Dapat dicermati dan dapat melihat banyak pemuda yang berkiprah pada
organisasi kesehatan, organisasi sosial, organisasi bisnis, organisasi
keagamaan dan bahkan organisasi kepemudaan sendiri (Suwito, 2014).
Berdasar pada sejarah, pemuda
merupakan unsur yang menarik dan esensial dalam suatu gerakan perubahan, maka
menarik untuk dikaji.Karena di dalam jiwa pemuda terdapat kerelaan berkorban
demi cita-cita. Di dalam pemuda terdapat api idealisme yang tidak menuntut
balasan, baik berupa uang atau kedudukan. Di dalam pemuda terdapat semangat
yang selalu membara. Bersama pemuda kita menentang segala kekuasaan yang tiran.
Bersama pemuda, kapal yang bernama Indonesia akan ditentukan maju, diam atau
tenggelam. Berdasarkan sejarah gerakan pemuda terdiri atas Tri Koro Darmo, Jong
Java, Jong Celebes Bond, Jong Sumatra Bond, Perhimpunan Pelajar Pelajar
Indonesia, dan Indonesia Muda. Pada tanggal 30 April 1926 mereka mengadakan
Konggres Pemuda I di Jakarta.Dalam konggres dihasilkan keputusan untuk
mengadakan Konggres Pemuda Indonesia II, dan semua perkumpulan pemuda agar
bersatu dalam satu organisasi pemuda Indonesia. Kemudian Konggres Pemuda II
diadakan tanggal 27-28 Oktober 1928, disepakati tiga keputasan pokok yaitu: 1)
Dibentuknya suatu badan fusi untuk semua organisasi pemuda. 2) Menentapkan
ikrar pemuda Indonesia bahwa mereka: a) Mengaku bertumpah darah yang satu,
tanah air Indonesia. b) Mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. c) Menjunjung
bahasa yang satu, bahasa Indonesia.3) Asas ini wajib dipakai oleh semua
perkumpulan di Indonesia. Hasil ini menjadi pondasi bagi persatuan
Indonesia.Lagu yang berjudul Indonesia Raya karangan Wage Rudolf Supratman yang
dikumandangkan membangkitkan semangat para pesertanya. Dan Sumpah Pemuda tiada
lain adalah ungkapan sejarah manusia Indonesia (Widyanto, 2012).
Menurut Survey UNDP tahun 2004 disebutkan bahwa
kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia saat ini berada pada peringkat
ke-109 dari 174 negara di dunia.Sementara itu, Singapura, Malaysia, Brunei, dan
Thailand masing-masing berada pada peringkat ke-41 sampai 44.Posisi negara kita
bahkan di bawah Vietnam yang baru bangkit karena tekanan tentara Amerika
Serikat.Di Asia, Indonesia hanya menempati posisi ke-45 dari 48 negara-negara
Asia.Daya saing ekonomi berada pada peringkat ke-41, serta penguasaan iptek
menempati posisi ke-40. Di sisi lain, jumlah angkatan kerja nasional pada
krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang, sementara jumlah
kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06
juta orang penganggur terbuka (open unemployment). Angka ini meningkat
terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta. Dan bila
dilihat menurut golongan umur, sebanyak 9,5 juta penganggur pada tahun 2003,
sebagian besar atau sebanyak 5,7 juta (60%) diantaranya adalah penganggur
berusia muda (youth) 15-24 tahun. Dari 5,7 juta pemuda yang menganggur
tersebut, sebesar 3 juta penganggur berusia 20-24 tahun dan 2,6 juta pemuda
berusia 15-19 tahun. Dengan komposisi 2,88 juta bertempat tinggal di perkotaan,
dan sebanyak 2,8 .juta bertempat tinggal di perdesaan (Warta Ketenagakerjaan
Edisi 11 & 12 (Nopember-Desember 2004)) Sementara itu, ketimpangan sosial
juga bukan rahasia lagi, jika anggota dewan memiliki gaji puluhan bahkan
ratusan juta, sementara penyapu jalan tidak sedikit yang honorer dengan gaji
300 ribu saja. Pembangunan yang selama ini dibanggakan memiliki tingkat
pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan sumber daya alam
intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing berupa pinjaman dan
investasi langsung.Dengan demikian, bukan berasal dari kemampuan manajerial dan
produktivitas SDM yang tinggi. Survey UNDP tahun 2000 mengenai bagaimana
pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia adalah hanya pada posisi 107 dari
147 negara. Padahal menurut Agenda 21, potensi keanekaragaman hayati Indonesia
terdapat pada urutan ke-2 di dunia. Kemudian lagi, dalam majalah Tempo, edisi
Jum’at, 26 November 2004, Ketua Kwarnas Gerakan pramuka Azrul Azwar
mengemukakan bahwa masalah generasi muda , khususnya, saat ini mamasuki titik
krusial. Hanya 30 % lulusan SD yang masuk SMP, dan hanya 5% dari lulusan SMU
yang masuk Perguruan Tinggi (PT).Lalu dalam Harian Umum Pikiran Rakyat edisi
Sabtu 17 September 2005 disebutkan bahwa pengguna narkoba jenis jarum suntik di
Bandung diperkirakan berjumlah 6.000 orang. “Adapun yang bisa ditangani adalah
sejumlah 2.280 orang, 1.500 orang di antaranya berada di bawah dampingan
Yayasan Bahtera,“ Demikian menurut Tamami Zain, Manajer program Penanggulangan
HIV/ AIDS Yayasan Bahtera. Kemudian lagi, menurut Azrul Anwar, Guru Besar FKUI
yang juga adalah Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), saat ini 40% dari
pengguna narkoba itu terkena AIDS (Yosita, 2006).
Dewasa ini pemuda dihadapkan dengan tantangan
yang besar.Tantangan untuk kaum muda seolah tak pernah berhenti.Tantangan itu
datangnya bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga muncul dari luar negeri.
Untuk itu, tantangan bagi kaum muda dibagi menjadi dua yaitu:
1. Dalam
Negeri
Kemajuan yang diharapkan akan segera tercipta
setelah rezim Suharto tumbang ternyata tidak juga tercapai. Bahkan reformasi
sudah berjalan selama satu dasawarsa lebih.Mulai dari presiden Habibie,
Abdulrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono keadaan Indonesia tidak
banyak mengalami perubahan.Keadaan sebaliknya terjadi krisis terus melanda
segala aspek (multidimensional), dan korupsi terus merajalela.Isu yang sempat
berhembus kencang adalah adanya krisis kepemimpinan.Bahkan dalam pemilu 2009
yang lalu para calon presiden Indonesia dan wakil presiden merupakan orang-orang
lama, yang sudah terbukti tidak mampu menjadi lokomotif perubahan.Tentu dengan
pemilihan umum calon independent dapat menjadi suatu alternatif bagi
kepemimpinan muda di Indonesia.Deskripsi di atas menunjukkan bahwa Indonesia
memang mengalami krisis kepemimpinan.Sebenarnya sebagai Negara demokrasi hal
ini tidak perlu terjadi, karena dalam negara demokrasi pemimpin itu diciptakan
melalui regenarsi baru muncul dan berperan. Tetapi di Indonesia ini tidak
terjadi dengan baik, karena kaum tua senang mendominasi kekuasaan dengan gaya
main kuasa, merasa paling benar sendiri dan kong kalikong.
Satu dari sekian banyak faktor pemicu krisis
kepemimpinan ini disebabkan oleh kacaunya sistem pendidikan Indonesia.Di mana
ganti menteri, maka buku, program dan kurikulum diganti pula.Pendidikan di
Indonesia akhir-akhir ini berorientasi pasar15 sehingga hanya menciptakan
“budak-budak baru” dalam era globalisasi.Presiden Sukarno pernah mengatakan
jangan sampai rakyat Indonesia di tengah-tengah finanzkapital hanya menjadi
budak di atara bangsa-bangsa (en volk van koelies en een koelie onder de
natie).Terlebih lagi di era kapitalisme global sekarang ini di mana manusia
hanya dijadikan alat pengahasil keuntungan yang harganya tak lebih tinggi
daripada mesin atau bahkan dihargai lebih rendah.
Belum lagi korupsi yang menggerogoti birokarsi
pemerintahan.Yang juga mampu menyebabkan kesejahteraan rakyat terampas oleh
tindakan para birokrat yang tidak bermoral dan berprikamenusiaan dan hanya
mengedepankan kepentingan kelompok dan golongannya sendiri.Buktinya, tahun baru
para menteri diberikan fasilitas mobil baru, yang bila dibandingkan dengan
mobil-mobil menteri di benua Eropa maka mobil menteri Indonesia jauh lebih
mahal.Renovasi rumah anggota DPR RI yang mencapai milyaran rupiah per-unit.
2. Luar
Negeri
Pada tatanan Internasional, dampak globalisasi
sudah tampak di Indonesia, walaupun globalisasi tidak selalu membawa dampak
negatif, tetapi ada juga positifnya.Tetapi globalisasi di Indonesia secara umum
lebih banyak dampak negatifnya, seperti pola hidup masyarakat yang menjadi
konsumtif, hedonis, dan materialistik. Terlebih lagi sumber daya alam Indonesia
yang melimpah menjadi terbuka bagi negara-negara kaya, misalnya Amerika
Serikat, Jepang (baca Amerika Serikat dan sekutunya) yang cenderung
mengutamakan kepentingan ekonomi negaranya dan menghalalkan segala cara dalam
menjaga kepentingan industrinya, misal penguasaan minyak di Irak secara paksa
dengan kekuatan militer dengan mengatasnamakan menjaga perdamaian dunia. Dampak
dari globalisasi dan kapitalisme global18 telah menjadikan Indonesia sebagai
“kue” yang siap dibagi-bagi untuk dikuasai. Kemudian penciptaan industri di
negara-negara
kaya tidak terbatas, sedangkan di negara-negara berkembang harus dibatasi
dengan alasan pemanasan global (global warming). Padahal negara-negara industri
seperti Amerika Serikat20 dan sekutunya yang menjadi pemasok gas terbesar dalam
pemanasan global tidak kebakaran jenggot seperti Indonesia.Akibatnya
negaranegara berkembang yang hendak berkembang industrinya menjadi terhambat
dengan alasan-alasan yang politis.Atau global warming dikampenyekan sengaja
untuk menghambat industri dari negara-negara berkembang yang mulai berkembang
pesat. Dengan kata lain negara-negara industri besar takut tersaingi dan mereka
akan kehilangan monopoli industrinya. Pemuda harus kritis dalam menyikapi
masalah ini (Widyanto, 2012).
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.
Permasalahan Pemuda
Telah diketahui bahwa pemuda berada pada
masa transisi dari proses remaja hingga menuju masa yang matang. Namun hasil
dari proses ini mengalami beberapa hambatan , permasalahan ini dapat terjadi di
berbagai lingkungan , salah satunya yang kami prioritaskan adalah permasalahan
yang terjadi di lingkungan Pendidikan.
Dari
hasil observasi yang dilakukan pada hari Senin , 9 Mei 2016 di SMAN 4 Kota
Jambi. Didapatkan bahwa permasalahan pemuda yang dialami siswa SMAN 4 kota
Jambi diantaranya :
1. Bolos
2. Terlambat
3. Merampok
4. Konvoi
5. Tawuran
3.2.
Penyebab Permasalahan
Dari hasil observasi yang telah kami
lakukan didapatkan penyebab permasalahan pemuda
3.2.1.
Bolos
Penyebab dari masalah bolos yang terjadi
pada siswa SMAN 4 Kota Jambi yaitu kurangnya pengawasan dari orang tua terhadap
perkembangan anak, terutama di bidang pendidikan.Dewasa ini anak yang
berprestasi adalah cerminan dari orang tua yang hebat dalam mendidik anak nya
sehingga dikatakan orang tua terbaik.
Selain itu, disiplin dari setiap individu
juga menjadi penyebab dari permasalahan pemuda ini, yang diketahui bahwa
seiring dari dampak globalisasi menyebabkan degradasi moral dari generasi
penerus bangsa(pemuda), banyaknya tantangan yang dialami oleh pemuda seperti
gadget, warnet, taman remaja, bioskop.
3.2.2.
Terlambat
Berdasarkan informasi yang telah kami
dapatkan bahwa jadwal kedatangan dari SMAN 4 kota jambi adalah pukul 07.05 WIB,
namun masih ada beberapa siswa yang terlambat. Penyebab dari permasalahan ini
yakni kurang disiplin siswa dan juga disebabkan oleh kemacetan di gang SMAN 4
Kota Jambi.
3.2.3.
Merampok
Penyimpangan seperti merampok juga tidak
jarang terdengar di kalangan pemuda.Hal ini juga pernah dilakukan oleh beberapa
siswa SMA N 4 Kota Jambi.Penyebab dari hal ini, mungkin dikarenakan psikologis siswa
yang labil, sehingga kecendrungan untuk terpengaruh oleh lingkungan lebih
besar. Kehidupan kota cenderung glamor.
Keinginan untuk bisa berbaur dengan lingkungan tidak mudah untuk ditolak.
Hasilnya, mereka melakukan segala cara seperti merampok agar bisa mendapat apa
yang mereka inginkan dan menyeimbangkan kebutuhan glamor perkotaan.
3.2.4konvoi
Konvoi merupakan masalah klasik yang selalu
ditemukan pasca penguguman kelulusan.dalam aksinya siswa melakukan iringiringan
sepeda motor yang cenderung ugalugalan di jalan raya yang pastinya mengganggu
lalu lintas. Aksi konvoi juga di iringi dengan kerusuhan seperti merusak
infrakstuktur seperti mencoret dinding atau jalan.
Untuk siswa SMA N 4 Kota Jambi sendiri
masih ditemukan melakukan konvoi pasca pengumuman pada sabtu tanggal 7 Mei
2016.Walaupun pihak sekolah sudah berupaya untuk mencegah siswa untuk melakukan
kovoi.
Sekolah sudah melakukan tindakan preventif
salah satunya yaitu dengan pengumuman kelulusan online.walaupun tidak optimal
seratus persen namun cara ini terbukti ampuh dengan menurunnya kegiatan siswa yang melakukan konvoi.
3.2.5
tawuran.
Masalah tawuran menjadi permasalahan di
kalangan pelajar yang selalu menjadi
momok dari tahun ke tahun. Walaupun tidak setiap sekolah terjadi tawuran secara
kontinu, namun setikdanya setiap sekolah pernah terlibat tawuran setidaknya
sekali.
Bedasarkan wawancara yang telah
dilakukukan, untuk SMA N 4 Kota Jambi sendiri keterlibatan siswa dalam tawuran
tidak dalam fase yang mengkhawatirkan.Dalam artian, siswa SMA N 4 Kota Jambi
hampir tidak pernah terlibat dalam aksi tawuran.
Namun, bukannya aksi tawuran itu sendiri
tidak pernah terjadi di SMA 4.Tercatat bahwa tawuran besar pernah melibatkan
siswa SMA N 4 dan SMA 6.Tawuran ini disebabkan karena adanya masalah
ketidak-sportifan oleh siswa tersebut.
Seharusnya ajang olahraga dimaksudkan agar
terciptanya sportifitas.Namun hal yang.sebaliknya terjadi . bukannya ajang persahabatan, namun
kerusuhan yang terjadi.
Masalah tawuran sendiri sangat sulit untuk
di cegah dan diatasi.Masalah moral dan agama tetap menjadi solusi yang paling
dasar untuk mengatasi masalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Suwito,
Anton. 2014. Membangun Integritas Bangsa
di Kalangan Pemuda untuk Menangkal Radikalisme. Jurnal Ilmiah CIVIS. Vol IV
(2).576-787.
Wibawa,
Lutfi. 2013. Pemberdayaan Pemuda melalui
Media Social Capital.Seminar Nasional Pengembangan Masyarakat Berbasis Modal
Sosial. 137- 142.
Widyanto,
Aloysius Bram. 2012. Pemuda dalam
Perubahan Sosial. Esai Kepemudaan. 16-26.
Yosita, Lucy.
2006. Kepemimpinan Pemuda Indonesia,
Apakah Akar Permasalahannya?. Esai Kepemudaan. 1-6.
0 komentar:
Posting Komentar